🤝DONASI

Kisah Pemuda Purwakarta Penjual Biji Karet: Mengais Rezeki Sekaligus Merawat Kenangan Masa Kecil di Jakarta

Penjual Mainan Biji Karet

JAKARTA - Di tengah gempuran game online dan mainan modern berbasis gawai, sebuah pemandangan unik memikat perhatian warga di kawasan perbatasan Bekasi hingga Jakarta. Seorang pemuda asal Purwakarta rela berjalan kaki puluhan kilometer demi menjajakan mainan tradisional yang mulai langka: biji karet.

Bagi anak-anak generasi Z atau Alpha, benda berbentuk bulat lonjong ini mungkin asing. Namun, bagi generasi 90-an kr bawah, biji karet adalah salah satu mainan paling legendaris pada masa Sekolah Dasar (SD).

Berburu Bahan Baku hingga ke Subang 
Menjadi penjual biji karet keliling kota megapolitan tentu bukan perkara mudah. Pohon karet sudah tidak bisa ditemukan di sudut-sudut Jakarta atau Bekasi. Demi menjaga ketersediaan barang dagangannya, pemuda yang tidak runtuh semangat ini harus berburu bahan baku langsung ke daerah Subang, Jawa Barat, yang memang masih memiliki area perkebunan karet yang luas.

Mainan Biji Karet

Mainan Biji Karet

Mainan Biji Karet

Dari Subang, biji-biji karet tersebut dipilah dan dibawa ke Purwakarta, sebelum akhirnya dibawa keliling untuk dijajakan dari sekolah ke sekolah, atau dari kampung ke kampung di wilayah Bekasi hingga menembus hiruk-pikuk Jakarta. 

Mengenal Sistem "Adu" dan Legenda "Biji Badak"
Cara memainkan biji karet ini sangat sederhana, namun memicu adrenalin anak-anak. Dua biji karet ditumpuk, lalu ditekan kuat-kuat menggunakan telapak tangan. Siapa yang biji karetnya pecah terlebih dahulu, dialah yang kalah.

Menariknya, pemuda ini sangat memahami product knowledge dari barang dagangannya. Ia membagi komoditasnya menjadi dua kelas harga:
  • Biji Karet Biasa: Dibandrol dengan harga Rp1.000 untuk tiga butir.
  • Biji Karet Super (Biji Badak): Dibandrol Rp1.000 per butir. 

Mainan Biji Karet

Mainan Biji Karet

Mainan Biji Karet

"Biji Badak" menjadi buruan utama para bocah SD yang ingin selalu menang. Biji ini memiliki ciri khas kulit yang berserat tebal, bertekstur keras, dab memiliki daya tahan tinggi saat diadu, sehingga kerap dijuluki sebagai "jawara" di kalangan anak-anak. 

Menjual Mainan, Merawat Nostalgia 
Kehadiran pemuda penjual biji karet keliling ini, tidak hanya memicu rasa penasaran anak-anak zaman sekarang, tetapi juga memicu rasa nostalgia yang mendalam bagi orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah. 

Sembari mencari nafkah, pemuda asal Purwakarta ini secara tidak langsung telah menjadi pahlawan kebudayaan. Di tengah modernisasi, ia merawat potongan memori kolektif bangsa dan memperkenalkan pada generasi muda bahwa kebahagiaan masa kecil pernah tercipta lewat kesederhanaan sebutir biji karet. 

Berita Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memuat berita...
BUDAYA
Memuat berita...
 
Back To Top