🤝DONASI

Setia Sejak 1995: Kisah Pria Asal Semarang Jajakan Mainan Otok-Otok dari Botol Bekas di BKT Duren Sawit

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

JAKARTA - Di tengah gempuran mainan modern berbasis gawai, sebuah sudut di Pintu Banjir Kanal Timur (BKT) Malakasari, Duren Sawit, Jakarta Timur, selalu menyajikan pemandangan yang berbeda setiap momen Car Free Day (CFD) Minggu pagi. Di sanalah seorang pria asal Semarang berdiri dengan setia, menjajakan kreativitas yang lahir dari tangan telatennya sendiri, mainan tradisional dari botol minuman bekas.

Pria paruh baya ini telah memulai perjalanan roda nasibnya sejak tahun 1995. Bukan waktu yang sebentar, sudah lebih dari tiga dekade ia konsisten menyulap limbah plastik menjadi mainan yang membawa tawa bagi anak-anak. Kesetiaannya pada profesi ini bahkan melintasi fase hidupnya yang luar biasa, dimulai saat ia baru memiliki satu anak, hingga kini buah hatinya telah berjumlah tujuh orang. 

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

Keterampilan Khusus dan Bahan dari Bekasi
Membuat mainan ini sekilas terlihat sederhana, namun nyatanya membutuhkan keahlian tingkat tinggi. Salah satu bagian yang paling rumit adalah saat proses pembuatan roda mainan otok-otok. Diperlukan keterampilan khusus dan ketelitian ekstra agar roda yang dihasilkan bisa benar-benar bulat sempurna, sehingga mainan dapat berjalan dengan stabil dan mengeluarkan bunyi yang berirama. 

Untuk urusan bahan baku, ia rela berburu hingga ke luar kota. Bahan-bahan bekas berkualitas yang menjadi komponen utama hasil karyanya tersebut, sengaja ia belanja dan kumpulkan dari kawasan Bekasi. 

Dari bahan-bahan inilah lahir beberapa model mainan andalannya, antara lain:
Mainan Jadul Otok-Otok: Mainan legendaris yang mengeluarkan bunyi "tok-tok-tok" saat digerakkan, kini tampil unik dengan sentuhan hiasan Ondel-Ondel yang meriah.
Ondel-Ondel Mini: Karakter ikon khas Betawi yang dibuat menggemaskan dari botol plastik bekas. 
Pesawat Baling: Mainan yang baling-balingnya bisa berputar dinamis saat dibawa berlari atau tertiup angin. 

"Dari zaman anak masih satu sampai sekarang sudah tujuh, saya tetap setia jualan ini. Ada kepuasan sendiri kalau lihat anak-anak zaman sekarang masih mau memegang dan memainkan mainan tradisional," ujarnya ramah.

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

Penjual Mainan Otok-Otok Tradisional

Harga Merakyat, Menolak Punah
Di tengah melambungnya harga berbagai kebutuhan di ibu kota, pria asal Semarang ini memilih untuk tetap membumi. Semua model mainan hasil kerajinan tangannya dibandrol dengan harga yang sangat ramah di kantong, yaitu Rp10.000 saja per unit.

Bagi sebagian orang, nominal tersebut mungkin kecil. Namun baginya, setiap sepuluh ribu rupiah yang mengalir adalah penyambung hidup keluarganya sekaligus bukti bahwa mainan tradisional belum sepenuhnya punah digilas zaman.

Bagi Anda yang merindukan nostalgia masa kecil atau ingin mengenalkan mainan ramah lingkungan kepada buah hati, lapak sederhananya di Pintu Air BKT Malakasari dengan deretan otok-otok warna-warni yang siap berbunyi nyaring.

Berita Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memuat berita...
BUDAYA
Memuat berita...
 
Back To Top