Acara ini dibuka resmi oleh Wali Kota Bekasi, Dr. Tri Adhianto Tjahyono, yang hadir mengenakan pakaian khas daerah. Dalam sambutannya, beliau memuji konsistensi warga Mustikajaya dalam merawat tradisi leluhur. Menurut beliau, festival ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan instrumen penting untuk memperkuat jati diri bangsa dan mempererat tali silaturahmi antarwarga agar tetap harmonis dan guyup.
Persaingan sengit tahun ini mempertemukan delegasi dari empat kelurahan tangguh, yaitu Kelurahan Mustikasari, Kelurahan Cimuning, Kelurahan Padurenan, dan Kelurahan Mustikajaya. Setiap kelurahan membawa tim terbaik mereka untuk memperebutkan gelar Juara Satu dengan hadiah uang tunai sebesar Rp8.000.000,00. Semangat kompetisi yang sehat terlihat jelas dari persiapan matang masing-masing kontingen yang ingin membawa pulang piala bergengsi tersebut.
Ada yang unik pada penyelenggaraan ke-19 ini, yaitu diperkenalkannya maskot resmi bernama Mpok Endang dan Bang Bedu. Kehadiran sepasang maskot ini menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung, terutama anak-anak yang berebut untuk berfoto bersama. Maskot tersebut merepresentasikan sosok warga lokal yang ceria dan penuh semangat dalam melestarikan budaya adu bedug serta tradisi hantaran dondang di tengah arus modernisasi.
Di sepanjang pinggir lapangan Stadion Mini H. Natrom Nursyamsu, setiap kelurahan mendirikan stand booth yang sangat memukau. Alih-alih tenda biasa, mereka membangun miniatur rumah gaya Betawi yang lengkap dengan ornamen khasnya. Detail arsitektur tradisional ini sengaja dihadirkan untuk membawa kembali memori kejayaan rumah adat di tanah Bekasi, sekaligus menjadi sarana edukasi visual bagi generasi muda.
Pernak-pernik yang menghiasi setiap stand kelurahan pun tidak kalah menarik perhatian. Mulai dari gantungan kembang kelapa yang warna-warni, hiasan dinding tradisional, hingga panjangan alat musik Betawi tertata dengan apik. Kreativitas warga dalam mendekorasi miniatur rumah ini menjadi salah satu indikator penilaian tambahan yang menambah keseruan atmosfer di area festival.
Tak lengkap rasanya tanpa kehadiran ikon budaya Betawi, yakni Ondel-Ondel. Di setiap depan stand kelurahan, sepasang Ondel-Ondel berdiri kokoh menyapa para pengunjung yang melintas. Kehadiran boneka raksasa ini semakin memperkental nuansa festival, menciptakan perpaduan visual yang megah antara suara dentuman bedug yang beradu dan keanggunan gerak khas boneka tradisional tersebut.
Meskipun antusiasme warga sangat membludak hingga memadati setiap sudut stadion, tujuan utama festival sebagai wadah silaturahmi tetap terasa sangat kental. Warga dari Kelurahan Mustikasari hingga Padurenan saling berbaur dan bercengkerama tanpa sekat. Festival ini berhasil menjadi ruang pertemuan besar yang menyatukan seluruh elemen masyarakat di Kecamatan Mustikajaya dalam satu semangat kebudayaan yang sama.
Hingga puncak acara pada 19 April, kemeriahan tidak juga surut meski panas menyengat area stadion. Festival Adu Bedug dan Dondang ke-19 ini sukses meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang hadir. Dengan total hadiah yang tinggi, acara ini diharapkan terus menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kota Bekasi untuk tetap bangga dan mencintai budaya lokalnya sendiri. Masyarakat pulang dengan senyum lebar, membawa harapan bahwa tahun depan perayaan ini akan kembali hadir dengan kemegahan yang lebih besar lagi.














Tidak ada komentar:
Posting Komentar