Sebagai pimpinan Sanggar Pusaka H. Abdurrahman memegang kendali penuh dalam melanjutkan estafet perjuangan sang Ayah, almarhum H. Sa'aba Amsir. Sosok ayahnya bukan sekadar orang tua bagi beliau, melainkan seorang maestro legendaris yang hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk kebudayaan Betawi. Tanggung jawab moral ini dijalankan dengan penuh kesungguhan agar sejarah panjang keluarga dan tradisi tidak memudar.
Dedikasi keluarga ini mendapatkan pengakuan tinggi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui pengabadian nama sang ayah menjadi sebuah identitas publik. Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Selatan kini telah resmi berganti nama menjadi Gedung H. Sa'aba Amsir. Penamaan gedung yang berlokasi di kawasan Tebet tersebut menjadi simbol penghormatan atas jerih payah dalam merawat akar budaya di ibu kota.
Keberadaan gedung tersebut juga menjadi pengingat bagi masyarakat luas mengenai pentingnya menghargai para tokoh kebudayaan. Bagi H. Abdurrahman, nama besar yang tersemat pada dinding gedung itu merupakan sebuah amanah besar untuk terus membuktikan bahwa kesenian Betawi tetap relevan. Hal ini memacu semangat beliau untuk terus bergerak di jalur pelestarian tanpa mengenal kata lelah.
Rebana Biang sendiri bukanlah alat musik pukul biasa karena memiliki karakter yang sangat spesifik dibandingkan jenis rebana lainnya. Keunikannya terletak pada ukuran instrumen yang sangat besar, atau disebut "Biang", yang mampu menghasilkan frekuensi suara bass yang dalam dan berwibawa. Alat musik ini membutuhkan ketrampilan dan kekuatan fisik khusus untuk memainkannya secara sempurna.
Selain dari sisi teknis musiknya, Rebana Biang memiliki kedekatan emosional dengan napas keislaman melalui syair-syair puji-pujian yang dibawakan. Kesenian ini juga menjadi mitra setia bagi seni bela diri Silat Cingkrik dalam berbagai upacara adat. Harmoni antara Ketangkasan fisik para pendekar dan irama megah dari rebana menciptakan sebuah pertunjukan yang tidak hanya estetik, tetapi juga terasa sakral.
Meski telah memasuki massa purnabakti sebagai pegawai negeri, aktivitas H. Abdurrahman dalam mengelola Sanggar Pusaka justru semakin padat. Fokus utama yang kini dijalankannya adalah memastikan proses regenerasi berjalan dengan baik di kalangan remaja. Beliau secara konsisten merangkul generasi muda agar mau mengenal dan mencintai instrumen yang menjadi identitas asli dari tanah kelahiran mereka.
Melalui upaya yang tak kenal putus asa, Rebana Biang terbukti berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang semakin canggih. Langkah nyata H. Abdurrahman memastikan bahwa warisan H. Sa'aba Amsir tidak hanya menetap sebagai nama sebuah bangunan statis. Getaran dari kulit rebana yang dipukul oleh tangan-tangan muda menjadi bukti hidup bahwa tradisi Betawi masih memiliki masa depan cerah








Tidak ada komentar:
Posting Komentar