Kian Marak, 'Manusia Silver' di Lampu Merah Kelapa Gading Jakarta: Antara Seni, Ekonomi, dan Razia


JAKARTA UTARA - Pemandangan tubuh mengkilap berwarna perak kini semakin mudah dijumpai di berbagai persimpangan Jalan protokol ibu kita. Fenomena manusia silver yang awalnya muncul sebagai bentuk aksi seni galang dana, kini telah bertransformasi menjadi profesi alternatif bagi warga demi menyambung hidup di tengah kerasnya ekonomi Jakarta. 

Bertarung Nyawa di Tengah Polusi 
Bermodalkan cat salon yang dicampur minyak tanah, para pengamen ini berdiri mematung di bawah terik matahari sebelum bergerak lincah di sela-sela kendaraan saat lampu merah menyala. Dengan kotak kardus atau kantong plastik di tangan, mereka mengharapkan recehan dari para pengendara.



"Mau kerja apa lagi, Mas? Cari krja sekarang susah, ijazah saya cuma SMP," ujar Aris (24), salah satu manusia silver di kawasan Jakarta Utara. Ia mengaku bisa mengantongi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per hari, namun resiko kesehatan membayangi karena penggunaan cat kimia pada kulit yang dilaksanakan setiap hari.

Dilema Penegakan Hukum dan Masalah Sosial
Pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta sebenarnya rutin melakukan penertiban. Keberadaan manusia silver dianggap melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Namun, razia saja dinilai tidak cukup. Beberapa poin utama yang menjadi perhatian publik antara lain:
  • Resiko Kesehatan: Penggunaan bahan kimia non-kosmetik dapat memicu iritasi kulit kronis hingga resiko kanker.
  • Eksploitasi Anak: Ditemukan kasus orang tua uang membawa anak balikan dan mengecat tubuh mereka untuk memancing simpati.
  • Keselamatan Lalu Lintas: Aktivitas di badan jalan membahayakan baik bagi pengamen maupun pengguna jalan. 

Upaya Solusi dari Pemerintah 
Dinas Sosial DKI Jakarta menyatakan bahwa penanganan manusia silver tidak bisa hanya melalui penangkapan. Mereka yang terjaring razia biasanya dibawa ke Panti Sosial untuk mendapatkan pembinaan dan pelatihan keterampilan. Masalahnya sering kali mereka kembali lagi ke jalan karena penghasilan instan di lampu merah dianggap lebih menjanjikan daripada memulai usaha atau kerja kasar.

Fenomena manusia silver adalah cermin nyata dari ketimpangan sosial uang masih ada di jantung ibu kota. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk memberikan solusi jangka panjang, bukan sekadar "kucing-kucingan" di lampu merah. Bagaimana menurut pembaca? Apakah keberadaan manusia silver di lampu merah mengganggu kenyamanan saat berkendara?

Berita Terkait

6 komentar:

  1. Jangankan di perempatan jalan besar! Di pasar kampung saya juga ada manusia silver, dua malah! Sepertinya juga masih muda, tetapi saya tidak tahu umur persisnya. Saya pribadi sih nggak merasa terganggu, hanya saja kasihan karena pasti nggak nyaman berlumuran cat seperti itu. Belum lagi kalau cuaca sedang terik, wah... Murah rezeki lah untuk kita semua 🙏🏻

    BalasHapus
  2. Kadang kasihan juga sama manusia silver ini karena tiap hari ngecat tubuhnya pakai bahan kimia, tapi demi dapat duit jadi begitu ya. Cari kerja memang susah, mana gajinya kecil lagi

    BalasHapus
  3. Liat manusia silver ini, saya ngeri ... risiko kesehatannya di masa depan itu lho .. apakah sebanding yang didapatkan sekarang dengan risikonya? :(

    BalasHapus
  4. Aku malah kasian mas 😞. Mikirin resiko kesehatannya nanti. Aku ga terganggu sih Ama keberadaan mereka. So far tiap ketemu mereka sopan kok. Jadi aku beberapa kali malah kasih uang juga. Mau orang bilang mereka ga akan hilang kalau tetep dikasih uang, tapi aku mikirnya, seandainya mereka dpt kerja yg bagus, apa iya mereka mau jadi manusia silver? Ga enak loh.. kulit pedih, panas.

    Kasih 2rb - 5 RB ga ada ruginya di kita. Mungkin bagi mereka malah berharga

    BalasHapus
  5. Wah di tempatku masih ada koq ini manusia silver, sudah pernah di tertibkan, tapi muncul lagi, barangkali ini cara dapet duit cepat, antara kasihan tapi mikirnya kayak mereka ini enggk mau capek kerja gitu, jadi kuli atau tenaga kasar kayak enggk bakalan mau,

    BalasHapus
  6. Nggak dimana2 itu mah kang... Di Bekasi, Depok juga marak manusia silver yang ujung2nya mencuri dah.😟

    BalasHapus

BERITA SLIDE
 
Back To Top