Memuat tanggal...

Viral! Marjan Tinggalkan Tema Dongeng, Kini Sindir 'Tikus Korupsi' dalam Iklan Terbaru?

Sirup Marjan

JAKARTA - Setiap tahunnya, kemunculan iklan sirup Marjan di layar kaca selalu menjadi penanda bagi masyarakat Indonesia bahwa bulan suci Ramadan segera tiba. Namun, tahun ini ada yang berbeda. Jika biasanya publik disuguhi petualangan kolosal ala legenda rakyat, beredar rumor dam konsep kreatif yang menyebut Marjan akan mengambil langkah berani dengan mengusung tema satir sosial: Perlawanan terhadap Tikus Korupsi .

Langkah ini sontak memicu perdebatan hangat di media sosial. Apakah brand sirup legendaris ini sedang melakukan revolusi komunikasi atau sekadar mencari sensasi di tengah isu politik yang memanas?

Sirup Marjan

Bukan Sekadar Iklan, Tetapi Kritik Sosial 
Dalam konsep yang bocor ke publik, iklan ini dikabarkan menggunakan teknologi CGI (Computer Generated Imagery) tingkat tinggi untuk menggambarkan kawanan tikus yang mencoba menggerogoti lumbung kemakmuran sebuah desa. Banyak pengamat menilai, figur "tikus" di sini adalah metafora gamblang bagi para koruptor yang merampas hak-hak rakyat. 

Pakar Branding, ada yang mengatakan, bahwa langkah ini sangat berisiko namun brilian. Masyarakat sedang berada di titik kejenuhan terhadap berita korupsi. Ramadan adalah waktu untuk menyucikan diri. Menampilkan perjuangan melawan "hama" (korupsi) sangat selaras dengan nilai spiritualitas dan kejujuran. 

Sirup Marjan

Sirup Marjan

Sirup Marjan

Mengenai Hati Konsumen atau Malah Kontroversial?
Pertanyaan besar adalah: apakah Tema ini bisa menyentuh hati Konsumen?

Pertanyaan yang menarik walau jawabannya sudah disinggung di paragraf sebelumnya. Bulan Ramadan adalah momen penyucikan diri (tazkiyatun nafs). Dengan menampilkan perjuangan melawan "hama" keserakahan, Marjan secara tidak langsung memosisikan produknya sebagai simbol kemurnian dan kejujuran. Kesegaran sirup saat berbuka puasa dianologikan sebagai "pembersih" diri segala kekeruhan moral yang terjadi di luar sana. 

Beberapa poin yang diprediksi akan membuat iklan ini meledak di pasaran adalah:
  • Relevansi Tinggi: Korupsi adalah isu nomor satu yang memicu kemarahan kolektif masyarakat. 
  • Visual Heroik: Marjan selalu berhasil membangun narasi pahlawan yang melindungi orang banyak. 
  • Efek Kejut: Kontras antara rasa manis sirup dengan "pahitnya" isu korupsi menciptakan efek psikologis yang kuat di benak penonton. 

Netizen Mulai Bersuara 
Di platform X (Twitter), tegar #MarjanLawanTikus mulai bermunculan. "Kalau Marjan beneran pakai tema ini, mereka bukan cuma jualan gula, tetapi jualan keberanian. Saya sih bakal beli buat stok lebaran, " tulis salah satu di akun yang viral.

Meski pihak Produsen belum memberikan pernyataan resmi mengenai detail plot iklan tahun ini, satu hal yang pasti: Marjan telah berhasil mencuri perhatian bahkan sebelum iklannya tayang secara utuh. Jika eksekusinya tepat, ini akan menjadi standar baru bagi periklanan di Indonesia, di mana komersialisme bertemu dengan aktivisme sosial. 

Berita Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memuat berita...
BUDAYA
Memuat berita...
 
Back To Top