Masalah Kejernihan dan Lumut
Para pengusaha depot air isi ulang, yang saat ini menjadi mitra strategis sekaligus "ujung tombak" pemasaran produk Aqua di tingkat akar rumput, mulai merasakan dampaknya. Menurut mereka, sifat galon bening yang transparan membuat sinar matahari lebih mudah menembus ke dalam air.
"Sejak ganti ke galon bening, air jadi lebih sensitif. Kalau terpapar cahaya sedikit saja di toko atau saat pengiriman, lumut cepat sekali tumbuh. Konsumen jadi komplain Karena air isi ulang terlihat keruh," ujar Heru, salah satu pemilik depot di kawasan Cikarang.
"Dulu pakai galon biru, air bisa tahan berminggu-minggu tetap jernih. Sekarang pakai galon bening, baru tiga hari di depan toko saja sudah mulai muncul bintik-bintik hijau (lumut). Konsumen langsung protes, dikira filter kami yang kotor, " keluh Ahmad, seorang pemilik depot di Jakarta Utara.
Kondisi ini memaksa pemilik depot untuk lebih ekstra hati-hati dalam pengisian air ulang dan penyimpanan, namun hal tersebut tidak selalu memungkinkan mengingat keterbatasan ruang di toko-toko kecil atau kios distribusi. Jika depot tidak memiliki ruang gelap atau tertutup, resiko air rusak sebelum terjual menjadi sangat tinggi.
Depot Rugi, Cinta Aqua Ikut Terancam
Depot Air isi ulang selama ini dianggap sebagai "ujung tombak " pemasaran karena kedekatan dengan pemukiman warga. Namun, masalah pada galon bening ini menciptakan efek domino:
- Operasional Membengak: Pemilik depot harus mencuci galon lebih sering dan lebih keras untuk menghilangkan kerak lumut, yang berisiko merusak fisik galon bening yang cenderung lebih tipis dari galon polikarbonat.
- Kehilangan Pelanggan: konsumen yang mendapati airnya keruh cenderung menyalahkan depot, bukan produsen galon. Hal ini menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan isi ulang.
- Penjualan Menurun: Jika depot kesulitan menjaga kualitas air dalam galon bening, mereka cenderung enggan menyetok galon jenis tersebut, yang pada akhirnya akan menghambat perputaran stok produk Aqua itu sendiri di pasaran.
Dampak Bagi Pemilik Depot dan Konsumen
Kondisi ini menciptakan dilema besar:
- Kerugian Operasional: Depot sering mendapat komplain "air rusak" padahal masalah utamanya ada pada interaksi antara wadah bening dengan cahaya matahari.
- Penurunan Omzet: Konsumen melihat galon yang berlumut akan menganggap air di galon depot tersebut tidak higienis, sehingga loyalitas pelanggan menurun. Bahkan ada pelanggan yang pindah ke depot lain, gara-gara air berlumut ini.
Tips Mitigasi (Saran Solusi)
Jika Anda tetap menggunakan galon bening di depot air isi ulang, berikut langkah pencegahannya:
- Hindari Sinar Matahari Lansung: Pastikan area penyimpanan galon gelap atau tertutup kain/plastik hitam.
- Gunakan Sarung Galon: Sarankan konsumen menggunakan sarung galon (dispenser cover) yang tidak tembus cahaya.
- Percepat Perputaran Stock: Air di galon bening sebaiknya dikonsumsi dalam waktu kurang dari 3-5 hari.
- Cek Lampu UV: Pastikan lampu UV di depot Anda dalam kondisi prima untuk membunuh spora sebelum masuk ke galon.
Perlunya Solusi dan Edukasi
Para pengusaha depot berharap pihak produsen memberikan solusi nyata, baik berupa edukasi cara penanganan khusus galon PET atau mengevaluasi kembali penggunaan warna bening yang terlalu transparan untuk iklim tropis Indonesia.
"Kami ingin mitra, kalau kami rugi karena air cepat rusak, Aqua juga rugi kerana produknya tidak laku di tingkat bawah. Harus ada jalan tengah agar inovasi ini tidak malah membunuh UMKM depot," ujar Hari selaku memiliki depot di Jakarta Utara.
Perlunya Evaluasi Kemasan
Sejumlah pihak menilai bahwa meski galon bening diklaim lebih ramah lingkungan dan bebas BPA, aspek fungsionalitas dalam rantai distribusi di Indonesia yang tropis harus tetap dipertimbangkan. Paparan sinar UV yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan utama bagi kemasan yang sepenuhnya transparan.
Selain masalah air yang cepat keruh dan berlumut, para pelaku usaha juga menyoroti daya tahan fisik galon yang dianggap ringkih dan mudah penyok (peot atau dekok). Kombinasi masalah kualitas air saat diisi ulang dan kelemahan fisik ini dinilai menjadi beban ganda bagi ekosistem depot yang menjadi ujung tombak pemasaran produk di masyarakat. Karena galon bening mudah penyok saat ditumpuk atau mengalami benturan ringan selama proses pengiriman, pengusaha depot juga ingin atau butuh kemasan yang tangguh untuk lapangan selayaknya galon warna biru. Semoga keluhan ini segera mendapatkan respon dari pihak Aqua. SEMOGA!!





Sepertinya dari pihak R&D perusahaan-perusahaan air itu perlu bekerja lebih keras lagi, supaya ada inovasi terbaru yang bukan cuma mengamankan konsumen dari bahaya BPA tetapi juga mengamankan kesejahteraan ritel dan pengecer 🙏🏻
BalasHapussebenernya lebih bagusan galon yang dulu, warna biru pekat, mungkin invasi terbaru ngikut le minerale kali ya, gak bagus malah jadi tambah masalah :D
BalasHapus