Ia adalah Pak Dadang (bukan nama sebenarnya) salah satu dari sekian banyak perantau asal Tasikmalaya yang masih setia mengadu nasib di ibu kota sebagai penjual alas kaki keliling. Menariknya, produk yang ia tawarkan bukanlah barang sembarangan, melainkan kerajinan tangan asli Cibaduyut, Bandung.
Bertahan di Tengah Gempuran Zaman
Setiap harinya, Pak Dadang mulai berjalan dari kontrakan sempitnya di kawasan pemukiman padat sejak pukul 08.00 pagi. Rutenya tidak menentu, kadang menyisir trotoar Sudirman hingga masuk gang-gang sempit di pinggiran Jakarta.
"Kalau tidak jalan, dapur tidak mengepul. Meski badan sering pegal, yang penting halal dan tidak meminta-minta," ujarnya sambil menyerahkan keringat dengan handuk kecil yang sudah dekil.
Baginya, menjual produk Cibaduyut adalah kebanggaan tersendiri. Meski pasar saat kini dibanjiri sepatu impor murah dari platform online, ia yakin kualitas kulit dan jahitan tangan perajin lokal masih punya tempat di hati pelanggan setianya.
Dilema Pedagang Keliling
Tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya soal cuaca yang ekstrem, melainkan juga daya beli masyarakat yang mulai beralih ke belanja digital.
- Harga: Sandal yang mereka jual berkisar antara Rp60.000 - Rp100.000, harga yang sangat kompetitif untuk kualitas kulit asli.
- Beban: Berat dagangan yang dipukul bisa mencapai 20 kilogram Setiap harinya.
- Hasil: Terkadang dalam seharinya ia bisa membawa pulang keuntungan yang cukup, namun tak jarang pula iq harus pulang dengan tangan hampa.
Harapan di Balik Pundak yang Lelah
Motivasi terbesarnya adalah keluarga di Tasikmalaya. Setiap lembar rupiah yang terkumpul ia sisihkan untuk dikirim ke kampung halaman setiap bulannya. Pak Dadang adalah potret nyata yang menolak menyerah pada keadaan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik kemegahan Jakarta, ada keringat-keringat pejuang yang terus bergerak demi mempertahankan eksistensi produk lokal Indonesia di tengah arus modernisasi.



Sudah jarang ada yang berjualan sandal-sandal seperti ini secara offline. Di kampung sebelah dulunya ada sentra kreasi sandal dan sepatu, sangat berjaya tetapi hanya sampai akhir 2010-an. Entah karena kurang promosi dari pemerintah setempat atau karena kalah bersaing dengan marketplace, jadilah harus ditutup dan dialihfungsikan sebagai pasar sayur dan ikan. Padahal berbelanja offline ada untung tersendiri, khususnya belanja alas kaki seperti ini, sebab bisa mengepaskan langsung dengam ukuran kaki dan mengecek sendiri kualitas jahitan dan sebagainya.
BalasHapus