Fenomena Tahu Bulat "Digoreng Dadakan": Jajanan Murah yang Tetap Eksis di Tengah Modernitas Jakarta


AKARTA - Di sela-sela bisingnya klakson dan kepulan asap kendaraan di Jakarta, sebuah suara unik dari pengeras suara kecil seringkali memecah keheningan gang-gang pemukiman. "Tahub bulat, digoreng dadakan, lima ratusan, gurih-gurih nyoy!" Jargon ikonik ini bukan sekadar iklan, melainkan penanda kehadiran salah satu kuliner kaki lima paling fenomenal di ibu kota. 

Meski Jakarta ini dipenuhi dengan Cafe kekinian dan restoran franchise internasional, eksistensi tahu bulat gerobak keliling seolah tak tergoyahkan. Strategi "digoreng dadakan" menjadi kunci mengapa camilan sederhana ini tetap dicintai lintas generasi. 

Mengapa Masih Menjadi Primadina?
Ada beberapa alasan mengapa tahu bulat tetap punya tempat spesial di hati warga Jakarta:
  • Kehangatan Maksimal: Konsep digoreng langsung di atas mobil bak terbuka atau di gerobak keliling memastikan pembeli menerima tahu dalam kondisi panas dan mengembang sempurna (kopong). 
  • Harga Merakyat: Di tengah naiknya biaya hidup di Jakarta, harga Rp500 per butir menjadikannya camilan paling terjangkau bagi siapa saja, dari anak sekolah hingga pekerja kantoran.
  • Varian Rasa yang Nagih: Taburan bumbu bubuk mulai dari rasa pedas level tinggi, jagung bakar hingga keji, memberikan sensansi rasa yang modern pada bahan pangan tradisional. 


Dapur Berjalan di Atas Roda
Salah satu dari pemandangan unik dari tahu bulat di Jakarta adalah, digoreng langsung di atas gerobak keliling. Gerobak yang sudah modifikasi sedemikian rupa. Bentuk alat pengorengan juga nampak unik, karena ukurannya yang besar, lebih cengkung ke dalam. Sang penjual dengan lihat menggoreng tahu bulat di tengah guncangan jalan ibu kota.

"Paling ramai itu pas jam pulang kerja atau sore hari saat anak-anak main di luar. Dalam sehari, saya bisa menghabiskan 500 sampai 1.000 butir tahu," ujar Shobirin (35), salah satu penjual tahu bulat yang biasa keliling di area Kelurahan Sukapura,  Jakarta Utara. 

Simbol Ketahanan Kuliner Lokal
Tahu bulat bukan sekadar makanan; ia adalah simbol adaptasi kuliner lokal. Di saat banyak jajanan lain hilang ditelan tren, tahu bulat justru memanfaatkan teknologi sederhana (pengeras suara dan rekaman suara ikonik) untuk menjemput bola, mendatangi pelanggan langsung ke depan pagar rumah.

Bagi warga Jakarta, kehadiran tahu bulat adalah pengingat bahwa kebahagiaan kecil seringkali datang dari hal-hal sederhana yang hangat, murah, dan tentu saja...gurih-gurih nyoy! Apakah pembaca juga suka tahu bulat? Yuk dikoment!

Berita Terkait

2 komentar:

  1. Ya saya juga kadang jajan tahu bulet , rasanya gurih, apalagi kalau di makan selagi hangat, suara nya itu loh yang jadi ciri khas jualan tahu bulet, "tahu bulet di goreng dadakan, lima ratusan", kadang sampe malam juga masih kedengeran

    BalasHapus
  2. Salah satu jajanan favorit saya nih! Walau lebih suka temannya, si sotong, tetapi sesekali masih kebeli juga. Kok bisa ya, percampuran tahu dan bumbu-bumbunya seenak itu?! Apalagi pas masih anget-anget, wuih... The best sih! 👍🏻 Dilemanya adalah beli 5 ribu kurang, tapi kalau lebih dari itu kebanyakan 😖

    BalasHapus

BERITA SLIDE
 
Back To Top