Memang hidup itu sangat keras. Dan harus memilih, atau bahkan hanya pasrah karena ketidakberdayaannya. Setiap anak, inginnya dilahirkan dari orang tua kaya. Keluarga yang penuh harmonis romantis. Tidak ada masalah soal finansial sehingga apa yang diinginkan segera terbalik atau terwujud. Kagak perlu kerja capek- capek, cukup rebahan dan kaki selonjoran. Tapi kenyataannya kehidupan tidaklah seperti itu. Selalu ada masalah dan problematika kehidupan, nasihat dari Bang Roma Irama. Itu lo, Raja Dangdut.
Ya ampun saya kok jadi bahas lagu hahaha. Mau bicara kulineran apa bahas musik nih? Ya hanya sekedar intermeso saja hehehe. Saya mau bahas kulineran khas Bandung, lebih tepatnya khas Sunda. Bandung terkenal dengan nama- nama kulineran yang unik, suka menyingkat nama atau kalimat. Kali ini saya ingin membahas Batagor, singkatan dari bakso tagu goreng. Ya ya ya bakso dan tahu di goreng.
Batagor bahan utamanya adalah adonan ikan tenggorokan yang digoreng bersama tahu dan kulit lumpia. Makanan atau cemilan ini disajikan dengan siraman saus kacang, saus kecap dan saus sambal. Sesuai permintaan pembeli, level atau tingkat kepedasannya. Kalau saya, lebih suka siraman saus kacang, plus kecap. Maklum, orang keturunan Jawa suka yang manis-manis hehehe.
Emangnya Abang kuliner Batagor dimana? Oh iya, saya jajanan atau kulineran Batagor di gerobak kaki lima yang mangkal di seberang Pintu Utama Komplek Ruko (Rumah Toko) Gading Bukit Indah, Jakan Raya Gading Kirana, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mungkin gerobak Batagornya sekilas tidak kelihatan, karena rimbunnya daun pepohonan dan kadang juga terhalang kendaraan mobil atau motor yang parkir. Tempatnya memang adem, banyak teman ojol (ojek online) yang mangkal.
Penunggu atau penjual Batagor ini masih remaja, asal Ciamis, Jawa Barat. Sebut saja namanya si Budi, maklum saya lupa menanyakan namanya. Sebenarnya saya cukup lama mengobrolnya. Si Budi berjualan Batagor dengan cara setor ke bosnya. Dia hanya menjaga lapaknya. Jam operasional gerobak Batagor dari sekitar jam tujuh pagi sampai sekitar jam lima sore. Si Budi ini, saya perhatikan sudah mahir betul cara membuat Batagornya. Dari cara membuat tahu isian tepung maupun isian kulit pangsit. Katanya, dia sudah berpengalaman saat di Kampung.
Saat saya datang membeli, si Budi baru siap -siap menggoreng dan membentuk isian dari bahan Batagor itu sendiri. Dari inti rangkuman perbincangan tersebut, si Budi tidak sempat tamat sekolah dasar. Dia memutuskan untuk bekerja, demi membiayai kedua adik-adiknya. "Kalau saya tidak bekerja, adik-adik saya pastinya juga akan putus sekolah", Cerita si Budi. "Maklum Bang, dari keluarga tidak mampu, orang tua saya sudah bercerai", Timpal Si Budi. Saya hanya bisa menyimak, tanpa ada rasa untuk mengurus atau menasihati.
Eh tidak terasa, Batagornya sudah matang, hangat jadinya. Saya pesan dua porsi. Sebenarnya soal harga bebas, mau lima ribu rupiah juga bisa. Karena saya tergolong rakus soal makanan, saya memilih yang satu porsinya harga sepuluh ribu rupiah. Oh Abang rakus ya, pantas perutnya buncit hahaha. Hustt...!
Karena saya terburu-buru ingin pergi, saya memilih di bungkus saja. Cara makan Batagor jika dibungkus bagaimana Bang? Tenang, nanti dikasih tusuk lidi atau tusuk gigi. Tinggal tancapkan ke potongan batagor, lalu makan dah. Simple banget dah. Eh Abang lupa soal rasa? Oh untuk rasa, super nikmat dan lezat. Potongan Batagornya juga gedhe-gedhe kok. Menurut saya, tergolong murah sekali, cukup ramah di kantong. Dan bikin nagih. Jika lewat depan komplek Gading Bukit Indah jangan lupa mampir ya!






Semoga murah rezeki Budi, bisa menyekolahkan adik nya..aamin
BalasHapusRisiko hidup di Jakarta yaa mas salah satu harus ada yang mengalah. Mungkin lain waktu Budi bisa ikut kejar paket A,B atau C. 😁😁😁
BalasHapus