Sepertinya sudah menjadi tradisi atau kebiasaan, hujan di bulan November sampai menjelang tahun baru selalu dibarengi dengan efek banjir. Nah inilah yang membuat warga Jakarta cemas-cemas gimana gitu. Ngeri-Ngeri sedap. Apalagi akhir tahun ini, pemerintah Jakarta getol banget memperbaiki jalan dengan cara meninggikan jalan. Iya jalan jadi baik, tapi efeknya posisi rumah warga Jakarta jadi lebih rendah dari jalan itu sendiri.
Sedangkan saluran air masih ada yang tersumbat atau bahkan sama sekali belum ada saluran air. Sehingga saat hujan, air mengalirnya ke jalan raya. Jalanan berubah berfungsi dadakan menjadi saluran air. Nah inilah yang menyebabkan genangan air di jalanan. Pengendara jika tidak hati-hati bisa terperosok lubang, atau kendaraan bisa mogok.
Ah tidak kebayang nanti di bulan Desember atau tahuh baru ya. Biasanya curah hujan begitu lebat dan derasnya. Hujan sebentar saja, dampaknya sudah terasa. "Hujan kalau tidak banjir tidaklah seru Mas, itulah Jakarta", Celetuk Seorang Warga. Entahlah, itu kalimat sebuah hiburan atau kalimat yang menandakan rasa keputusasaan. Ya ya ya hidup ini memang sesekali mentertawakan dari sendiri.
Menjelang maghrib, hujan sudah mulai reda. Air yang menggenangi jalanan, perlahan juga mulai surut. Warga yang rumahnya kemasukan air hujan luapan jalanan, juga sibuk untuk mengeringkan dan membersihkannya. Dengan harapan, malamnya bisa istirahat dan tidur dengan nyenyak.




Itu dia masalahnya Mas, saluran airnya malah belum selesai diperbaiki, tapi jalan udah ditinggikan. Kalo nanti jalannya tergenang karena airnya nggak ngalir, jalannya bakal rusak lagi.
BalasHapuskuala lumpur semalam pun banjir kilat. hujan turun agak lebat. tapi area rumah saya masih selamat
BalasHapus