Prihatin ! Pria Ganteng Gantung Diri Karna Tak Punya Biaya Buat Nikah

Keranda

Sudah lama sekali wabah ini melanda. Setahun lebih, itu pun tak ada tanda-tanda kapan segera usai. Bahkan di negara India, terjadi lonjakan yang begitu hebatnya. Sampai rumah sakit, kewalahan menangani pasien. Ketersediaan tabung oksigen sangat menipis. Konon katanya, penyebab wabah itu merajalela karena kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak orang. Terjadi kerumunan yang tidak terhindar. Sedih dan ikut prihatin pastinya.

Situasi seperti ini memang begitu menyulitkan, serba salah. Jika di rumah saja, kebutuhan hidup tak tercukupi. Tapi jika keluar rumah, takut kena wabah. Ibarat kata, di dalam rumah mati, ke luar rumah pun juga mati. Akhirnya memilih mati di luar rumah. Ah, kalau bisa janganlah ya? Semoga tetap dalam keadaan sehat. Dan rezeki juga tetaplah lancar. Kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Walau harus hutang kesana kemari, tak jadi soal. Demi menyambung hidup.

Wah saya jadi ingat saat awal-awal wabah ini melanda. Batin rasanya menangis. Untuk makan sulit sekali. Ya terpaksa ke kebun mencari daun genjer untuk dimakan. Untuk dibuat sayur pastinya. Ya mencari genjer, mencari yang gratisan. Bumbu cukup garam dan sedikit ditambahi bumbu-bumbu yang lainnya. Soal beras, tertolong dari beras bansos. Aduh ngomong bansos lagi, ah mentri yang baru tak ada kabarnya. Bantuan beras kenapa berhenti total? Semelekete!!!!!

Soal makan, bisalah perut diikat erat-erat. Tapi yang paling berat adalah memenuhi kebutuhan bulanan semisal listrik, air, kontrakan dan pulsa buat sekolah anak. Kepala pening euy! Pengen sambat, tapi entah kepada siapa. Tapi ya semua itu jalanin saja. Soal keluh kesah dan bahkan putus asa, hal yang wajar. Sifat manusiawi. Asal jangan sampai bunuh diri.

Wow bunuh diri? Jadi ingat tentang seorang pria ganteng yang bunuh diri dengan seutas tali. Mengakhiri hidupnya menjelang pagi hari, sekitar waktu subuh. Menggegerkan warga sekampung. Pria ganteng, yang murah senyum. Dan selalu menampakan keceriaan, tiba-tiba harus merenggang nyawa. Apa penyebab gantung diri?

Saya pun mencoba untuk menelisik penyebab pria ganteng itu bunuh diri. Kabar kasak-kusuk, pria itu depresi karena didesak segera untuk menikahi pacarnya. Resepsi pernikahan yang begitu mepet. Sedangkan sang pria belum punya modal atau biaya. Walau sang pria ini sudah berusaha untuk mencari pinjaman sana-kemari, tapi hasilnya ya nihil. Dalam keputusasaan itulah, bisikan setan datang.

Ya ya ya, sebenarnya sarat pernikahan itu kan mudah, murah dan sederhana. Tapi karena ingin mengikuti budaya jadilah repot dan terasa berat. Jadi beban. Sebagai orang tua, seharusnya tidak memaksakan diri. Asal anak sudah sama-sama mencintai. Soal resepsi sesuai dengan kemampuannya saja. Tak perlu gengsi. Jangan karena ingin balik modal atau ingin mencari keuntungan. Atau ingin dilihat wah.

Apalagi kondisi seperti saat ini. Sekedar buat makan saja sudah ngos-ngosan. Ya ya ya, harus berani mendobrak budaya yang sekiranya memberatkan. Kalau biaya ada, mau mengadakan acara seperti Atta Halilintar tak jadi masalah. Mengundang presiden buat jadi saksi. Sekali lagi, itu pun kalau punya duit. Kalau tak ada? Akhirnya calon menantu depresi dan harus gantung diri? Penyesalan yang datang terlambat!

Related Posts

24 komentar:

  1. Duh, kasian. Gara2 mau nikah tak punya duit, memilih mati bunuh diri. Jadinya dua kali rugi ya, Mas. He he ... Salam kenal.

    BalasHapus
  2. Tidak mudah memang hidup dalam keadaan terjepit tapi biasanya ada juga kenikmatan dalam jepitan.

    BalasHapus
  3. Kebiasaan yang memberatkan itu resepsinya ya. Di tambah tekanan dari omongan tetangga klo resepsi biasa saja.

    Tersebab pandemi ini jadi ada untungnya tidak perlu repot bikin acara besar-besaran untuk resepsi meski berimbas juga ke pelaku usaha seperti fotografer, MUA, katering, dll

    BalasHapus
  4. ya allah, kasihan banget pemuda itu om. sedih rasanya

    BalasHapus
  5. Miris dengernya.
    Gegara ngga ada modal buat nikah milih bunuh diri.
    Harusnya cukup ke catatan sipil doang,selesai.
    Tinggal enak bikin anak .., eh* apaan cobaa aku komentar begini, hahaha

    BalasHapus
  6. Duh kasian sih.
    Semoga nggak ada kejadian yang seperti ini.
    Karena nikah kan nggak harus mewah dan kalo emang belum mampu, mending tahan dulu.

    BalasHapus
  7. Kematian adalah takdir tapi mbok ya jangan lewat cara bunuh diri, hiks. Padahal pandemi bisa membuat pernikahan menjadi sederhana dengan alasan tidak boleh berkerumun, tapi apa daya jika dibenturkan dengan budaya dan orang tua. Akhirnya nyawa yang menjadi jawabannya.

    BalasHapus
  8. Biasanya kasus bundir itu gara2 patah hati. Ini mau nikah malah depresi.

    Kasian ya. Gara2 pandemi semua jadi susah. Mudah2an kita tetap sabar dan eling.

    BalasHapus
  9. mas bumi salfoks pas awal awal masake satur genjer modal garem...tapi aku jadi pengen tumis genjer hiks

    BalasHapus
  10. inilah alasan kesehatan mental masih menjadi masalah utama di negara ini

    BalasHapus
  11. Bukankah ada orang tuanya yang bisa dimusyawarahkan lebih baik? Kasihan kalau kejadiannya seperti, betul mas, nikah itu sebenarnya sangat murah yang penting disahkan dulu. Untuk acara rame-ramenya bisa ditunda beberapa bulan kedepan sampai ada modal

    BalasHapus
  12. Lagi-lagi masalah ekonomi. Di negara maju yang lebih makmur dari Indonesia, mereka yang seperti ini, termasuk pengangguran diberikan tunjangan. Kritik untuk blog yang luar biasa dan saya suka topiknya ini kok sekarang tidak seinteraktif dulu?tidak ada umpan balik yang positif (minimal komen pengunjung direspon), terkesan kaku seperti membaca berita online. Apa hanya fokus interaksi di YouTube saja..... Terima kasih

    BalasHapus
  13. penyesalan memang selalu datang terlambat ya bang? kalau awal apa namanya bang? pendaftaran?

    BalasHapus
  14. Kasian banget ya, mana masih muda. Kenapa sih nggak dibicarain dengan keluarga, setiap masalah pasti ada solusinya, bukan dengan bunuh diri kayak gini. Nyesel memang belakangan. Udah nggak ngerasain kenikmatan dunia, gagal nikah, mati masuk neraka karena bunuh diri dosa besar, Na'uzubillahi Min Dzalik

    BalasHapus
  15. Kok sedih bacanya.
    Aku nggak mendesak kok, asal ada usaha untuk berjuang.

    Tapi, namanya orang tua, pengennya cepet-cepet biar anak perempuannya segera punya keluarga.

    Moga-moga kita tidak mencontoh contoh buruk itu Kak.

    BalasHapus
  16. Ya ampun miris banget yahhh...sampe segitunya

    BalasHapus
  17. aduh, sedih banget..
    gak ada modal nikah jadi bunuh diri.. harusnya bisa dimusyawarahkan kedua belah pihak. apalagi sekarang masa pandemi gini kan, serba sulit. huhu

    BalasHapus
  18. Sebenarnya syarat pernikahan mudah tapi budaya yang kadang membuat sulit, harus mengadakan pesta pernikahan yang mana mahal biayanya. Mungkin karena ngga kuat akhirnya gantung diri.

    Selamat hari raya idul Fitri ya mas, mohon maaf lahir dan batin kalo banyak salah dalam ngeblog.πŸ™πŸ™πŸ™

    BalasHapus
  19. Ikut prihatin gara-gara nggak ada modal nikah samapai nekat bunuh diri. Orang tua juga sich jangan terlalu menekan memaksakan kehendak. Penyesalan yang tiada akhir. Asal anak bahagia cukup dinikahkan di KUA. Pestanya nyusul kapan-kapan kalau udah ada modal..
    Oh iya. Selamat Hari Raya Idul Fitri mas Djangkaru.Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.2πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ˜‡

    BalasHapus
  20. Sangat disayangkan ya ...
    Tapi si pengantin perempuan diberikan tanda, dibutuhkan pria² matang secara emosional dan mental, karena untuk mengarungi rumah tangga akan banyak masalah menghadang, lalu ketika bunuh diri jadi solusi ketika dihadapkan pada masalah yang baru awal, rasanya kedepan pernikahan gak akan bisa berjalan mulus. Sangat disayangkan sekali, bunuh diri jadi pilihan. 😟

    BalasHapus
  21. Ikut prihatin mas, semoga bisa jadi pelajaran aja agar tidak terllu memaksakan dan saya setuju kalo emang udah saling cinta dan terbentur dana ya mending diadakan secara sederhana saja, toh sama sama sah itungannya.

    BalasHapus
  22. Aku masih percaya Tuhan ga akan kasih cobaan melebihi kemampuan. Jadi kalo sampe menyerah dan mengambil jalan pintas, sangat disayangkan sebenernya. Tapi ya sudahlaah ..

    Bener mas, padahal syarat nikah itu gampang. Tp gengsi manusia/ortu pengantin yang suka ketinggian. Hrs bikin pesta dll. Aku Ama suami sampe pernah diskusi, kalo anak nanti mau menikah, aku bakal bebasin dia mau seperti apa. Ga akan mengundang temen2 ortunya, terserah aja. Toh ini pernikahan dia, bukan pernikahan ortu. Toh buat kami sekeluarga, uang LBH bagus dipakai buat hal2 yg LBH penting drpd sekedar pesta sehari :D

    BalasHapus
  23. betul mas Djangkaru rakyat Indonesia jadi serba salah semoga ada jalan keluar

    BalasHapus
  24. Sebenernya gak punya biaya buat nikah atau gak punya biaya buat hajatan? Jujur aja saya dulu nikah gak habis 1juta...datang ke KUA ya itu cuma buat surat menyuratnya aja sih...yg mahal hajatnya

    BalasHapus

 
Back To Top