Wacana Pelarangan Ondel-Ondel Keliling Belum Terealisasikan Juga, Kenapa?

Ondel-Ondel Keliling

Jreng jreng jreng, akhirnya bisa nulis lagi. Walau sebenarnya draf sudah mencapai dua ratus lebih, eh untuk mengurai kata, kok rasanya kesulitan banget. Kan keterlaluan ya, draf sudah sebanyak itu ,tapi belum diterbitkan juga. Bahan-bahan photo sudah ada, eh emang dasar malas. Dan uniknya setiap membuat artikel, justru dari bahan baru bukan draf itu sendiri. Akhirnya itu, draf artikel ngendap terus. Tidak kunjung terbit juga. Ya begitulah, saya menulis memang mengikuti rasa hati saja. 

Saya tidak mau memaksakan diri, harus ini dan itu. Kalau memang jenuh, ya istirahat. Kalau lagi semangat, sehari bisa tiga artikel yang terbit. Apalagi saya mengelola tiga blog, dan semuanya aktif pula. Belum lagi mengelola channel youtube. Jadi kalau saya malas menulis, biasanya saya rajin edit video buat diunggah di Youtube. Senang rasanya, subscriber terus naik dan naik. Target minimal 10K subscriber. Semoga akhir tahun bisa tercapai.

Hidup ini memang harus punya tantangan baru. Untuk mengantisipasi rasa kejenuhan itu. Apalagi sekarang eranya visual, mau tidak mau ya harus mengikuti tren tersebut. Dan edit video itu juga punya tantangan yang tidak kalah menariknya. Dulu, edit video harus pakai aplikasi komputer. Kini sudah eranya mobile. Menggunakan perangkat handphone juga sudah mumpuni. Hasilnya keren pula. Kelebihan edit video menggunakan hape adalah, kita bisa dimana saja. Lagi nongkrong diluar, bisa sambil selonjoran. Dan bisa kita lanjutkan kapan saja.


Ngomong-ngomong soal video di channel youtube saya, ternyata penonton terbanyak itu adalah video ondel-ondel. Rata-rata, viewernya bisa ribuan jika videonya tentang ondel-ondel. Makanya saya berusaha untuk lebih focus ke tema hiburan ondel-ondel. Kadang juga atraksi topeng monyet. Pokoknya tema dua video itulah yang selalu mendapat respon terbanyak.

Apalagi di kampung saya hampir saban hari ada saja ondel-ondel yang keliling. Benar-benar mendukung jadinya. Bermodal saweran dua ribuan, sudah dapat video sesuai harapan. Durasi video saya buat sesingkat mungkin, masih berkisar empat menitan. Tapi kalau ondel-ondelnya menarik, baru saya buat durasi yang agak panjang, delapan menit. Tujuannya untuk mengejar jumlah tayang iklan, agar bisa tampil sesering mungkin di video. Dengan harapan pula, dolar ikut terdongkrak.

Ya ya, masih tentang ondel-ondel. Sudah lama ada wacana pelarangan ondel-ondel dipergunakan untuk ngamen. Ondel-ondel keliling dilarang. Ya karena ondel-ondel adalah icon dari Kota Jakarta, sehingga ondel-ondel harus mendapatkan tempat yang selayaknya. Masak iya, icon sebuah kota besar dipergunakan untuk keliling cari recehan. Mungkin dianggap sebuah perendahan martabat dari icon kota itu. Ini hanya sekedar asumsi saya belaka.

Kalau saya pribadi mah tidak begitu ngaruh. Mau dilarang atau tidak, ya tatap biasa-biasa saja. Tapi ya agak unik juga, jika ondel-ondel keliling dilarang. Karena ini juga menyangkut hajat kehidupan dari pengrajin ondel-ondel itu sendiri. Dan hajat pengamen keliling itu juga. Justru ondel-ondel bisa terkenal dan masuk ke hati masyarakat berkat pengamen ondel-ondel keliling itu. Mungkin, yang melarang ondel-ondel dipergunakan untuk pengemen atau keliling punya niat baik juga.  Ah, terserahlah!

Related Posts

7 komentar:

  1. Sama saya tulis ikut hati.
    Wah banyak blog dan saluran YouTube kendalian saudara.

    BalasHapus
  2. Dilema ya mas. Di lain pihak kita juga pengen ondel2 sebagai maskot Jakarta ga dijadikan hanya untuk ngamen . Tapi solusi untuk orang2 yg mengandalkan hidupnya dari ngamen ondel2 apa :(. Mereka juga kasian kalo income-nya diputus begitu ;(. Semoga sama2 ada solusi baik utk ondel2 agar terjaga image nya, tapi juga solusi untuk orang2 yg menggantungkan hidupnya dari itu

    BalasHapus
  3. Betul, mas. Satu sisi tidak timbul masalah, satu sisi yang lain ada masalah dan bahkan masalah yang cukup besar. Jadi ya kita kembalikan ke siapa yang akan mengambil kebijakan.

    BalasHapus
  4. Asekk ada yang baru.. Btw semangat ya ngedit-ngedit videonya.. Semoga Berkah...

    BalasHapus
  5. Oh kirain dilarang karena masa pandemi, Mas.

    Yang menarik di sana, yang khas di masyarakat kebanyakan, seperti ondel-ondel, ya.

    BalasHapus
  6. Owh karena alasan image. Iya bnr si, ondel-ondel sekarang dipakai buat ngamen jalanan, memberikan kesan yang kurang baik, memang ondel-ondel = budaya rakyat. Tp dg digunakan seperti itu, akhirnya ada kesimpulan, bahwa budaya kita adalah mengemis.

    Jika dilarang pasti ada pro kontra...
    Sy sih setuju jika ondel-ondel ini tidak dipergunakan untuk ngemis di jalanan

    BalasHapus

 
Back To Top