Belajar dari Ketangguhan Seorang Kakek Penjual Mainan dari Bambu

Kakek Penjual Mainan dari Bambu

Waktu sudah larut malam, jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Tapi mata terasa sulit dipejamkan. Entah mengapa, beberapa hari ini dilanda kecemasan dan ketakutan. Rasa kawatir hari esok, makan apa dan bagaimana. Ah, aku terlalu berkhayal jauh. Terlalu memikirkan masa depan yang belum tentu aku alami. Apakah aku diberi umur panjang? Rasanya aku sendiri ragu dan belum pasti.

Rasa was-was dan cemas datang dengan tiba-tiba. Apakah manusia selalu diuji dengan rasa ketakutan? Entah itu ketakutan makanan, rasa kekurangan buah-buahan dan harta? Sebenarnya aku sudah berusaha untuk menghilangkan rasa kekwatiran itu. Entah bagaimana dia bisa menyelinap masuk dalam pikiranku. Aku sudah berusaha untuk membuangnya, tapi dia kembali datang. Ternyata aku kalah.

Nasehat guruku kembali mengiang."Jika rasa was-was itu datang, ingatlah Allah yang maha segalanya. Dia Maha Pemberi Rezeki, Al Razzaq". Aku lafalkan nama asmaul husnah tersebut. Lambat laun, hatiku merasakan ketenangan. Tidak ada lagi, hal yang harus aku takutkan. Aku yakin, semua rezeki telah diatur oleh Tuhan. Dan rezeki itu bisa datang dari arah mana saja. Dari pintu yang tak terduga.

Aku jadi malu. Kenapa aku tidak belajar pada seorang kakek yang saya jumpai tadi siang. Seorang kakek yang berjualan mainan pedang-pedangan dari bambu. Sebuah mainan yang begitu sepele dan sederhana, tapi sangat laku dan laris sekali. Anak-anak menyukainya. Bahkan saling berebut.


Ya, sebuah mainan dari bambu. Yang dibentuk menyerupai pedang. Dengan tambahan sarung pedang yang bahannya terbuat dari bahan bekas. Kalau tidak salah, bahan bekas karpet. Ah, tangan kakek itu begitu lincahnya. Dengan sabar melayani permintaan anak-anak. Raut senyumnya menampakan kebahagiaan.

Sedangkan aku yang masih punya tenaga kuat. Daya pikir yang masih fres dan mungkin lebih maju. Kenapa justru letoy, punya mental yang loyo. Aku jadi malu. Aku harus lebih bersemangat. Tidak boleh ragu dengan waktu yang saya sendiri belum tentu mengalami. Masa depan yang belum tentu menjadi milikku.

Hari ini adalah waktu yang sesungguh aku punya. Akan aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku harus lebih tangguh. Tidak akan aku biarkan, waktu terbuang dengan sia-sia. Dan akan aku hempaskan rasa keluh-kesah. Buat apa susah? Susah itu tiada gunanya. Ah jadi ingat lagunya Koes Plus.

Related Posts

10 komentar:

  1. Aku ikutan malu sm kakeknya. Huhu
    Seting bgt ngeluuuh, liat semangat kakek berasa ikutan dpt energi positif

    BalasHapus
  2. Kalo aku kadang kasihan melihat kakek-kakek masih jualan, padahal seharusnya sudah istirahat di rumah. Tapi mungkin karena tidak ada uang jadi harus jualan.

    BalasHapus
  3. Waduh tertampar juga aku membaca kisah ini, semoga diriku juga tertulari semangat mengais rejeki halal nya si kakek

    BalasHapus
  4. wah aku sebagai anak milenial jadi terinspirasi dan menjadi semakin semangat untuk menjalani hidup :D

    BalasHapus
  5. Subhanallah.....ALLAH berarti sayang sama kita di saat kita menggalau tiba-tiba kita diingatkan dengan kehadiran orang dalam hidup kita, dalam hal ini Sang Kakek.

    BalasHapus
  6. semoga kakeknya selalu diberi kesehatan dan rezeki yang barokah
    amin ya robbal alamin

    BalasHapus
  7. semangat gan,, jangan kalah semangatnya sama kakek itu..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
  8. berjuanglah untuk hari ini, besok belum tentu dapat kita berjuang

    BalasHapus
  9. Semoga kakek sehat selalu ya

    Waktu itu di Depok juga pernah ketemu kakek-kakek jualan mainan handmade

    disitu aku tersentuh bgt, soalnya anak muda sehat walafiat aja ngamen dan minta-minta, beliau udh tua masih mau berusaha bekerja

    BalasHapus
  10. assalamualaikum... selamat tahun baru 2020... maaf laa baru sempat nak datang jenguk ke blog ni... insya allah sy akan kembali fokus sm mcm sebelum ni.... harap2 tak serik utk terjah blog sy nanti ya...

    BalasHapus

 
Back To Top