Berdasarkan pantauan di lokasi, pengerjaan tanggul beton di sepanjang aliran sungai serta keberadaan alat berat seperti ekskavator menutup hampir seluruh akses jalan pemukiman. Jalan yang tergolong sempit kini tak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Hanya pejalan kaki yang bisa melintas dengan ekstra hati-hati di celah-celah area proyek.
Akses Terputus dan Ekonomi Warga Terpukul
Lamanya pengerjaan proyek ini dikukuhkan karena sangat membatasi mobilitas warga. Selain memperpanjang waktu tempuh karena warga harus memutar jalan jauh, kondisi jalan tertutup ini turut berdampak langsung pada perekonomian lokal. Banyak warung dan usaha rumahan milik warga di sekitar area proyek mengalami penurunan omzet secara drastis akibat tidak adanya pelanggan yang melintas menggunakan kendaraan.
"Kami paham proyek ini bagus untuk penanggulangan banjir. Tapi kalau pengerjaannya memakan waktu lama dan menutup jalan sepenuhnya, ekonomi kami yang mati. Pembeli tidak bisa lewat, jualan jadi sepi," ujar salah seorang warga di lokasi.
Harapan Adanya Kepastian Target Selesai
Proyek normalisasi dan penurapan ini memang digadang-gadang sebagai penanganan strategis untuk meminimalisasi luapan air Kali Rawa Indah (Kali Rawa Gatel, warga lebih suka menyebutnya) saat musim hujan tiba. Namun, warga mendesak pihak kontraktor dan instansi terkait untuk memberikan kepastian target penyelesaian pengerjaan.
Masyarakat berharap agar pengerjaan dilapangan dapat dipercepat dan penataan area kerja dirapikan sehingga setidaknya akses jalan setapak yang layak dapat dilalui kendaraan roda dua untuk menyambung kembali urat nadi perekonomian warga Rawa Indah Pegangsaan Dua. Harapannya sih begitu!








Tidak ada komentar:
Posting Komentar