Sambil mendorong gerobaknya di bawah terik matahari Jakarta, pria ini menawarkan berbagai jenis pisau dapur, golok, parang, hingga arit. Tak hanya menjual fisik barang, keahlian utamanya justru terletak pada jemarinya yang terampil mengembalikan ketajaman bilah-bilah besi yang sudah tumpul.
Merantau Demi Dapur Mengepul
Ia mengisahkan bahwa keputusannya merantau ke Jakarta dua dekade lalu didasari oleh sulitnya mencari lapangan pekerjaan di kampung halaman. Dengan modal keahlian mengenali kualitas besi dan teknik mengasah yang diwarisi dari sang ayah, ia nekat mengadu nasib ke megapolitan.
"Saya ke Jakarta sejak tahun 2006. Awalnya ikut teman, lalu coba mandiri keliling sendiri. Alhamdulillah, lewat profesi yang dianggap sepele ini, saya bisa menghidupi keluarga di Cirebon dan menyekolahkan anak-anak," ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Utara.
Setiap harinya, ia berjalan kaki hingga belasan kilometer. Rute perjalanannya yang tidak menentu, masuk dari satu perkampungan ke perkampungan lain, hingga perumahan padat penduduk. Pelanggan setianya rata-rata adalah ibu rumah tangga, pedagang pasar, hingga tukang daging.
Bertahan di Tengah Gempuran Zaman
Menjadi penjual perkakas tradisional di ibu metropolitan tentu bukan perkara mudah. Kini, masyarakat lebih mudah membeli pisau murah buatan pabrik atau alat mesin instan secara online. Namun, baginya, kualitas asahan tangan dan ketahanan perkakas tradisional berbahan baja asli tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.
"Kalau diasah pakai batu asahan manual, tajamnya lebih awet dan pisau tidak mudah tipis. Orang-orang yang paham masak biasanya tahu bedanya dan pasti nyari tukang asah keliling," tambahnya optimis.
Bagi pria asal Cirebon ini, profesi tersebut bukan lagi sekadar urusan mencari sesuap nasi, melainkan tentang merawat sebuah keahlian tradisional agar tidak punah ditelan zaman. Selama tenaganya masih ada, suara gesekan besi di gerobaknya akan terus menggema di Jalan Jakarta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar