Tradisi yang Menjadi Peluang Bisnis
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah membuka layanan penukaran uang resmi melalui kas keliling dan bank-bank konvensional, antrean yang panjang dan kuota yang terbatas membuat banyak warga yang memilih jalan pintas. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pedagang uang musiman.
Di sepanjang jalan protokol, para penyedia jasa ini biasanya memamerkan tumpukan uang kertas yang masih terbungkus plastik (segel bank), mulai dari pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000.
Berapa Tarif Jasanya?
Berdasarkan pantauan di lapangan, tarif atau "fee" penukaran yang tahun ini bervariasi tergantung pada seberapa dekat jaraknya dengan hari H Lebaran.
- Tarif Normal: Rata-rata penyedia jasa mematok tarif 10% hingga 15%. Artinya, jika Anda menukar Rp100.000, Anda harus membayar Rp110.000 hingga Rp115.000.
- Mendekati Lebaran: Tarif ini biasanya melonjak hingga 20% pada H-3 atau H-2 Idul Fitri karena tingginya permintaan dan menipisnya stok yang baru.
"Kalau sekarang masih lima belas persen, Mas. Tapi nanti kalau sudah minggu terakhir puasa, biasanya naik karena barang (uang baru) makin susah didapat," ujar Butet, salah satu penyedia jasa penukaran uang di kawasan Jakarta Utara.
Waspada Uang Palsu dan Resiko Keamanan
Meskipun praktis, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Menukar uang di pinggir jalan memiliki resiko tersendiri, mulai dari selisih hitungan hingga resiko terselipnya uang palsu.
Berikut adalah tips aman jika Anda terpaksa menukar uang di jasa non-resmi:
- Hitung Uang fi Tempat: Jangan ragu untuk menghitung lembar demi lembar secara manual di depan penjual.
- Cek Keaslian: Gunakan metode 3D, Dilihat, Diraba, Diterawang.
- Cek Segel: Pastikan plastik pembungkus uang masih utuh atau perhatikan nomor seri uang yang biasanya berurutan.
Bank Indonesia sendiri tetap menyarankan masyarakat untuk menukar uang di jalur resmi melalui aplikasi PINTAR guna menjamin keamanan dan keaslian uang 100%. Bagaimana dengan pembaca, suka jalur resmi atau non-resmi? Dikomentari ya!








Saya paling gak suka sama tukang ginian mas.
BalasHapusNganu, ribaaaaa