🤝DONASI

Tombol 'Save' Itu Nyata: Kisah Benda 1,44 MB yang Bikin Gen Z Bingung

Disket Floppy Disk

Pernahkah Anda memperhatikan ikon "Save" di layar laptop dan berpikir itu hanya gambar kotak abstrak? Bagi Gen Z, simbol itu mungkin sekadar desain dekoratif. Namun bagi mereka yang melewati era 90-an, itu adalah Floppy Disk alias disket, sebuah benda fisik yang pernah memegang kunci seluruh rahasia digital kita sebelum era Claoud menyerang.

Lahir dari laboratorium IMB pada akhir 60-an, floppy disk adalah solusi ajaib di zaman komputer masih sebesar lemari es (kulkas). Sebelum ada disket, orang harus memakai kartu berlubang yang ribet. Disket hadir menawarkan kebebasan: sebuah media tipis uang bisa dibawa-bawa, meski kapasitasnya saat itu akan membuat pengguna TikTok masa kini menangis saking kecilnya. 

Varian paling populer adalah ukuran 3,5 inci dengan casing plastik kaku. Meski luarnya keras, di dalamnya terdapat piringan magnetik yang lentur atau "floppy". Benda ini sangat manja; terkena debu sedikit atau diletakkan di atas benda bermangnet, maka data di dalamnya bisa langsung menguap alias rusak total 

Disket Floppy Disk

Disket Floppy Disk

Mari bicara soal kapasitas yang bikin geleng-geleng kepala: 1,44 MB. Ya, Anda tidak salah baca. Satu buah foto selfie zaman sekarang rata-rata berukuran 3MB, yang artinya satu disket bahkan tidak cukup, untuk menampung satu foto saja. Dulu, unjuk menyimpan satu gim sederhana saja, kita butuh tumpukan disket yang diberi nomor urut.

Ada sensansi nostalgia yang tak tergantikan, yaitu bunyi "krek-krek-ngiiing" saat disket dimasukan ke dalam mesin. Bunyi mekanik itu adalah musik bagi para pekerja kantoran zaman dulu, menandakan bahwa data mereka sedang diproses. Jika suaranya berubah menjadi kasar, itu adalah sinyal darurat bahwa disket Anda sedang wasalam atau sekarat. 

Disket Floppy Disk

Disket Floppy Disk

Disket Floppy Disk

Ironisnya, meski bendanya sudah punah dari toko buku, bentuknya tetap abadi sebagai ikon "Save". Ini adalah contoh skeuomorfisme paling legendaris, dimana fungsi sebuah benda fisik tetap dikenali lewat simbol digitalnya, bahkan ketika generasi batu tidak pernah lagi melihat wujud aslinya di dunia nyata.

Namun jangan salah, disket belum benar-benar "tewas". Di beberapa belahan dunia, sistem kendali kereta api tua, mesin bordir industri, hingga sistem militer tertentu masih mengandalkan teknologi purna ini. Alasannya sederhana: mereka stabil, tidak bisa terinfeksi virus internet modern, dan sistemnya terlalu mahal untuk diganti total. 

Floppy Disk adalah pengingat bahwa teknologi selalu bergerak cepat. Apa yang hari ini kita anggap canggih, seperti SSD 1 TB, mungkin 20 tahun lagi akan dianggap sebagai artefak lucu oleh generasi mendatang. Jadi, hargailah ikon kecil itu; ia adalah nenek moyang yang memungkinkan kehidupan digital Anda menjadi semudah sekarang. Adakah pembaca yang pernah mengalami dan merasakan kejayaan Floppy Disk Ini? Yuk dikomentari!

Berita Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memuat berita...
BUDAYA
Memuat berita...
 
Back To Top