Menolak Renta di Atas Pedal: Kisah Pak Maman, Pesepeda Keripik Singkong Asli Betawi yang Pantang Menyerah


JAKARTA - Di sela-sela deru mesin kendaraan mewah dan kepulan polusi Jakarta, tampak sebuah sepeda jengki tua yang melaju perlahan. Di bagian belakangnya, terikat dua keranjang bambu yang sedikit unik, bergelantungan aneka keripik, semisal keripik singkong, basreng (bakso goreng), keripik kacang umpet. Semua keripik dikepas dalam bungkus plastik. Di balik kemudinya, ada Pak Maman (70) (nama samaran), sosok asli Betawi yang membuktikan bahwa usia hanyalah angka jika dibandingkan dengan semangat mencari nafkah yang halal.

Pak Maman bukan sekadar pedagang. Ia adalah produsen, distribusi, sekaligus "pemasar" tunggal dari keripik singkong yang ia beri nama "Rasa Betawi". Kalau orang Jawa, menyebut keripik ini dengan nama Manggleng, singkong rebus yang dipotong-potong memanjang sedikit tebal kemudian digoreng, atau dijemur kering baru digoreng. Semua proses keripik Rasa Betawi dari pemilihan singkong hingga pengemasan, dikerjakan secara mandiri bersama istri tercintanya, Mak Ipah (65) (nama samaran juga), di rumah petak daerah Sukapura, Jakarta Utara. 


Duet Maut di Dapur Tradisional 
Setiap subuh, dapur mereka sudah mengepul. Mak Ipah, bertugas mengirim singkong secara manual dengan ketelitian tinggi agar renyahnya merata. Pak Maman menyiapkan alat penggorengan dan wadah lainnya. Kadang pengerjaannya setelah badak Isyak, dan selesainya bisa menjelang jam dua pagi. Cukup menguras waktu, tapi semuanya dikerjakan dengan sukacita berdua.

"Keripik ini buatan bini saya, bumbunya bumbu asli, kagak pakai bahan-bahan aneh. Makanya saya pede bener jualan keliling, karena rasanya memang jujur," kata Pak Maman sambil membenahi letak topinya.


Mengayuh Harapan dari Utara ke Pusat
Setelah semua keripik terbungkus rapi, Pak Maman mulai mengayuh sepedanya. Jarak belasan kilometer dari Jakarta Utara menuju ke pusat kota bukan masalah baginya. Otot kakinya mungkin sudah tak sekuat dulu, namun tekadnya melebihi mesin kendaraan apa pun.

"Naik sepeda mah enak, Bang. Bisa masuk gang, bisa berhenti di mana aja kalau ada orang memanggil. Lagian selama dengkul masih bisa ditekuk, haram hukumnya bagi saya nganggur di rumah. Harga semua keripik ini Rp5000,00. Untung sedikit tapi bisa laku banyak, itu prinsipnya," tuturnya sambil terkekeh.

Keuletan Pak Maman sering mengundang simpati warga. Namun, ia bukanlah orang yang berharakan belas kasihan. Ia lebih bangga jika orang membeli keripiknya karena rasa, bukan rasa iba.

 Simbol Ketangguhan Pribumi Jakarta 
Di tengah gempuran tren snack impor, kehadiran Pak Maman dengan sepeda tuanya menjadi pemandangan yang mengharukan sekaligus inspiratif. Ia adalah representasi "orang lama" Jakarta yang tetap tegak berdiri meski kota ini terus berubah menjadi hutan beton yang keras.

Bagi Pak Maman, setiap kayuhan pedal adalah doa, dan setiap bungkus keripik yang terjual adalah berkah yang ia bawa pulang untuk dinikmati bersama istrinya di masa tua. Apakah pembaca sudah pernah berjumpa dan membeli produk Pak Maman asli Betawi ini? Yuk dikomen!

Berita Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA SLIDE
 
Back To Top