Wacana Redenominasi Rupiah Bergulir Lagi, Pro dan Kontra Semakin Memanas


Eh sudah tahu belum apa itu Redenominasi? Penyederhanaan nilai mata uang dengan cara mengurangi jumlah angka nol (0) tanpa mengubah nilai riil atau daya beli uang itu sendiri. Ingat, hanya mengurangi jumlah nilai nol. Misalkan Uang Rp 1.000 (seribu rupiah) akan menjadi Rp 1 (satu rupiah) dengan uang kertas baru. Jadi nilai tukar atau daya belinya tidak berubah. 

Beda halnya dengan Sanering, memotong nilai uang secara paksa, yang menyebabkan daya beli anjlok. Indonesia pernah melakukan kebijakan Sanering era Presiden Sukarno.  Mengganti uang lama dengan uang baru dengan kurs Rp 1.000 uang lama diganti menjadi  Rp 1 uang baru. Tahun berapa itu Bang? Ya sekitar tahun 1965. Bahkan konon katanya ada orang kaya yang saat itu sampai bunuh diri. 


Wacana Redonomalisai sebenarnya sudah cukup lama, sejak sekitar tahun 2010. Dan kini mulai bergema lagi. Dan bahkan gaungnya semakin santer. Ada yang optimis dan pesimis, ah paling hanya sekedar wacana saja. Apakah era Presiden Prabowo, bisa terealisasi? Entahlah! Kebijakan ini hanya bisa dilaksanakan oleh pemimpin yang siap mengambil risiko. Khususnya resiko tidak terpilih lagi di Pemilu tahun depan hehehe. 

Terlepas dari soal resiko atau apapun. Kata guru saya kadang ada nilai benarnya, mata uang Indonesia itu memang sedikit unik. Dengan negara tetangga saja, nilai tukar mata uangnya saja bisa kalah. Mungkin karena Indonesia bukan negara bekas jajahan Inggris kale ya hehehe.  Bahkan konon, mata uang Indonesia peringkat ke enam dengan nilai mata uang terendah.  Ya ampun, negara yang luas dan makmur begini, kenapa nilai mata uang bisa semenderita itu.

Walau kebijakan Redenominasi benar-benar bisa terwujud,  alias pemerintah dan DPR sepakat, tetap membutuhkan proses yang panjang. Ya paling tidak butuh waktu sekitar 10 tahunan. Itu pun belum bicara jika nanti mengalami kegagalan. Yang namanya sebuah kebijakan,  walau niatnya baik, agar mata uang rupiah punya pamor belum tentu mulus diperjalanan. 



Emang seh ya, kalau dipikir-pikir uang kertas rupiah sudah terlalu banyak angka nolnya. Eh konon di Vietnam justru ada uang kertas pecahan paling tinggi yaitu d_500. 000 (lima ratus dong Vietnam).  Berarti jika bawa duit satu juta, cukup dua lembar uang kertas dong. Wow praktis sekali, dompet jadi tak gendut hehehe.

Dengan adanya uang kertas yang nominalnya semakin tinggi. Uang logam jadi tidak punya arti. Terus buat apa gunanya, pemerintah menerbitkan atau mencetak uang koin? Banyak pedagang yang menolak pembayaran jika pembeli menggunakan koin dengan nilai di bawah 500 rupiah. Pembeli juga kadang dirugikan dengan pembulatan harga barang, semisal beli mie instan yang tertera harga Rp 2.900. Kenyataannya bayar di kasir jadi Rp 3.000.

Nah itu Bang, terus duit koin nasibnya bagaimana jika Redenominasi terlaksana? Konon katanya,  akan menjadi Sen, sebagai pecahan di bawah satu Rupiah. Prinsipnya begini, 1 Rupiah Baru sama dengan 100 Sen Baru. Misal duit koin lama, Rp 100 setara dengan 10 Sen Koin Baru. Pokoknya kurangi angka nol satu dan ubah Rupiah menjadi sebutan Sen. Waduh,  jelimet juga ternyata ya Bang? Weleh, rumit bagi yang punya duit hahahaha. Kalau yang sudah terbiasa tidak punya duit santai saja hahaha.  Ah kampret loe Bang!

Berita Terkait

2 komentar:

  1. Saya termasuk yang pro sih, soalnya nolnya emang kebanyakan.
    Cuma harapannya kalo nanti jadi, pedagang tidak membulatkan harga ke atas, kalo nggak ya terjadi inflasi.

    BalasHapus
  2. Cukup njlimet juga ya, aku mah nurut saja apa kata pemerintah, mau nolak juga ngga bisa kan kalo pemerintah memutuskan

    BalasHapus

BERITA SLIDE
 
Back To Top