Aduh, kata pembuka paragraf kok jadi promosi hehehe. Sebenarnya hal yang lumrah ya, karena website Djangkaru Bumi sudah memasuki usia 15 tahunan. Waktu yang cukup panjang, pastinya penuh lika-liku, penuh tantangan saat meliput event atau peristiwa di lapangan. Pokoknya tidak mudah lah! Tapi semua dilakukan dengan senang hati, optimis dan penuh keceriaan demi mendapatkan berita artikel yang punya nilai manfaat bagi pembaca. Sebuah informasi yang punya nilai kebenaran.
Lah lah lah, jadi tambah ngawur kalimat pembukanya. Efek dari belum minum kopi atau mungkin karena tanggal tua hahaha. Ya begitulah, jika tanggal pertengahan bulan, pikiran suka halu. Susah diajak konsentrasi. Sudahlah, kali ini saya ingin membahas kondisi atau penampakan terkini makam umum yang ada di wilayah Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Tepatnya berada di tepi Jalan Tipar Cakung, RW 03, Sukapura. Yaitu Makam Wakaf Buni.
Sejarah dari nama Buni sendiri saya belum tahu pasti asal-usul sejarahnya. Kemarin kenapa saya lupa menanyakan kepada penjaga makam ya. Kok sampai kelewatan dan terlupakan begitu. Tapi kalau menurut perkiraan saya, nama Buni diambil dari nama pemberi tanah wakaf itu sendiri. Itu seh masih tebakan. Untuk kepastiannya, semoga lain waktu saya lebih bisa menelusuri kebenarannya.
Entah tahun berapa pastinya, saya pernah memberitakan kondisi makam Buni yang sudah overload, sudah penuh. Yang saat itu, untuk mencari galian makam baru, begitu kesulitan. Deretan atau barisan makam yang sangat tidak teratur. Belum lagi jika musim penghujan. Area makam kebanjiran, tergenang air hujan. Super parah jika saat mengali lubang kuburan. Harus sedia mesin pemompa air. Yang lebih memprihatinkan, tanah galian suka longsor. Penggali lubang harus beradu cepat.
Tapi itu dulu, selang satu tahun. Berita artikel saya tentang Makam Umum Buni Sukapura mendapatkan tanggapan dari pemerintah Jakarta. Mendapatkan tanah uruk, yang ketinggiannya hampir dua meteran. Jika tidak salah perkiraan, proyek pekerjaan Makam Buni sekitar enam bulanan. Alat-alat berat dilibatkan. Asal-muasal tanah uruk, saya juga tidak menelusurinya. Nanti dikira kepo hahaha. Tapi saya yakin dari tanah uruk luar Jakarta.
Sebenarnya harapan saya terdahulu dari artikel tentang Makam Umum Buni, setelah mendapatkan tanah uruk adalah makam mulai dari nol lagi. Kecuali makam pemilik ahli waris tanah, atau makam tokoh sesepuh. Selain itu, makam yang lain dianggap hilang. Dengan harapan, makam-makam bisa lebih tertata dengan rapi. Bebaris dan berjejer dengan lurus. Sehingga enak dipandang dan dilihat. Tapi hasil musyawarah warga atau masyarakat terjadi keberatan.
Tapi apapun terlepas dari itu semuanya. Yang jelas penampakan dan kondisi dari Makam Wakaf Buni Sukapura sudah lebih baik. Saat hujan sudah tidak ada lagi drama-drama penggalian kuburan. Galian tergenang air dan kadang longsor, no way lagi. Peziarah juga merasa lebih nyaman, tidak adaa lagi berceceran atau berserakan pecahan botol kaca. Gundukan makam ditanami rumput taman, semakin mempesona.









Syukurlah sekarang sudah ada perbaikan walau belum sempurna, semoga kedepannya lebih baik lagi pemakamannya.
BalasHapusSelamat ya Mas, kerja kerasnya diakui google 👍 tetap semangat ke depannya