Pengen Lihat ! Masjid Jami' Al Asyariyah Bokoran Peneket Ambal Kebumen


Jenuh di rumah, pengennya jalan-jalan. Inginnya pergi jauh, tapi apa daya, isi dompet tidaklah sangat mendukung. Tipis benar-benar tipis. Pengen sambat, tapi kepada siapa. Pengen cari hutangan, tapi entah kemana. Tidak punya uang itu sangatlah rekoso, terksiksa. Karena kini uang adalah segala-galanya. Dengan punya uang, hal apa pun terasa mudah. Ingin beli hape baru, tinggal bayar cash. Ingin beli mobil baru, tinggal buka dompet. Ingin bini baru? Ssst...jangan diteruskan.

Sekarang cari hutangan susahnya kayak ampun. Dan harus benar-benar dibuat malu. Siap direndahkan. Siap dihinakan. Ah, cari hutang di warung saja kini sulit, di pintu warung sudah terpajang tulisan " Dilarang BON", "Tidak Menerima Hutangan", " Bayar Cash". Jika ada yang memberi hutangan, sebelum menerima uang sudah kena potong administrasi dulu. Belum lagi bunga yang sudah ditentukan.

Yang lebih parah lagi, di media sosial, ramai banget orang yang mencaci maki soal hutang. Sehingga wajar, jika kini orang semakin malas memberikan hutangan kepada orang lain. Karena takut nanti tidak terbayarkan. Akibat hukum sosial yang terciderai, malas bayar hutang, kini jadi merembet kemana-mana. Bagi peminjam, hutang harus dibayar. Dan pagi pemberi hutang, kalau bisa diberi kelonggaran. Kalau perlu dibebaskan. Eleh, maunya gitu.


Dah ah, dari pada pening pikirin duit. Paling asek mencari hiburan. Sekaligus melampiaskan hoby yang suka photo-photo. Dan siapa tahu nanti ketemu teman lama yang menawari ngopi bareng. Makan gratis, itu kalau ada. Seandainya tidak ada, ya paling tidak isi kepala jadi lebih segar. Tidak penat soal keadaan. Keadaan sekarang ini, harus tetap dibikin hepy. Kesusahan hati, siapa lagi yang peduli, jika bukan diri sendiri. Orang lain? Ah mereka juga sibuk dengan permasalahannya sendiri.

Keluar rumah dengan sepeda buntut. Celana kolor dan berkoas, dengan harapan keringat mudah terserap. Musim panas begini, gerak sedikit saja, badan langsung basah kuyub karena keringat. Banjir keringat dan baju basah. Apalagi dibagian ketiak, wow banget. Tapi tak apalah ya, pertanda badan sehat. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bawa kamera handphone.



Nah, karena kelelahan itulah. Saya mampir sejenak di masjid Jami' Al Asyariyah. Dengan tujuan membasuk muka, biar kulit terasa adem. Tidak kering karena sengatan matahari yang begitu teriknya. Belum lagi debu jalanan yang lumayan tebal. Paling asek itu memang masjid-masjid di kampung, pintu selalu terbuka. Beda dengan di kota-kota besar, kini masjid pada umumnya terkunci rapat. Hanya terbuka saat waktu salat saja.

Masjid Jami' Al Asyariyah termasuk luas areanya. Ada arena parkir. Halamannya juga terjaga kebersihannya. Benar-benar adem dibuatnya. Sampai saya lupa bahwa saya tidak punya duit. Saking senang dan gembiranya. Masjid Jami' Al Asyariyah berada di Dusun Bokoran, Kelurahan Peneket, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Jawa Tengah. Kode Pos 543292. Tidak jauh dengan kantor balai desa Peneket.

Related Posts

5 komentar:

  1. Benar, mas. Kalo di kampung masjid itu selalu terbuka lebar pintunya kapan saja. Jadi kita bisa beribadah dengan bebas.

    BalasHapus
  2. mesjid khas di jateng yo mas, soko sokone di daerahku juga gitu hehe

    mesjide adem mas, sokone warna ijo

    peneket aku pernah liwat sih :D

    BalasHapus
  3. lo mas bumi lagi di jakarta apa balik ke jawa

    masjidnya teduh
    aku suka saka tatalnya
    warnanya juga bikin nyaman di hari

    BalasHapus
  4. Bisa lupa nggk punya duit berasa punya duit gitu kali ya, kalau saya teliti lagi ternyata masjid itu indentik dengan warna hijau ya
    Warnanya kontaras dengan blog kece ini

    BalasHapus
  5. Asyiknya masih merdeka ke mana-mana sendiri, Mas. Penat ya penat sendiri, pas seger habis muter-muter ya seger sendiri hehehe.

    BalasHapus

 
Back To Top