Lagi Ramai Ngajak Hijrah Kerja dari Bank Konvensional, Fenomena Apa Ini?

Uang Rupiah

Dari saya kecil, permasalahan hukum tentang bunga bank ya, berkutat dalam tigah hal, haram, halal dan syubhat. Nah dari situ, hukum bunga bank merupakan masalah khilafiyah. Dan akan selalu ada perbedaan pendapat sampai kapanpun. Tapi pada dasarnya, hukum riba tetaplah haram. Apakah bunga bank tersebut termasuk riba, selalu menjadi bahan perdebatan.

Sebagai orang awam mah diambil enaknya saja. Tidak perlu terlalu kaku dan keras. Dan tanpa harus ikut menghukumi. Dan tidak boleh merasa paling suci dan benar sendiri. Dijaman akhir seperti saat ini, semua permasalahan memang semakin rumit dan jelemit. Tidak bisa dipandang secara hitam dan putih.

Kalau ada yang mengatakan kerja di Bank itu haram, ya tidak apa-apa. Itu hak mereka. Apalagi yang mengatakan sebuah lembaga, tak jadi soal kerana memang tugas mereka adalah mengkaji suatu permasalahan. Dan tidak perlu emosi apalagi terbawa arus, sampai ikut memikirkan sampai pening kepala. Jadi ikut stres. Kayak punya duit banyak yang ditaruh di bank saja.

Kalau kerja di bank haram, secara otomatis apa yang dikeluarkan oleh bank juga haram. Termasuk duit kertas yang dicetak oleh bank. Belum lagi sistem perbankan. Sedangkan untuk saat ini, hampir semua yang menyangkut perekonomian menggunakan sistem perbankan. Belanja online, menggunakan layanan perbankan. Pembayaran jalan tol, gaji karyawan, kredit rumah, kredit kendaraan, beli token listrik, pembayaran air PAM dan untuk membayar ojol, sebagian juga lewat perbankan. Mau menggunakan uang tunai atau chas? Ya kalau masih dalam nominal ratusan, kalau milyaran atau trilyunan?

Loket Bank

Ada yang sebagian orang ingin menggunakan mata uang terbuat dari bahan logam mulia bukan dari bahan kertas. Aduh, idenya seh bagus. Tapi pelaksanaannya ini yang tidak semudah dibayangkan. Untuk mendapatkan bahan logam mulia saja tidaklah gampang. Uang dari bahan kertas saja ada yang menimbun. Apalagi uang dari bahan logam mulia, lebih parah lagi pastinya.

Kalau nanti orang baik atau orang soleh berbondong-bondong keluar atau tidak mau kerja di bank. Apa yang akan terjadi? Dunia perbankan akan dikuasai oleh orang dholim. Kacaulah negara ini. Imbasnya akan kemana-mana. Perekonomian negara amburadul terus negara bisa hancur. Orang baik, biarkan dan tetaplah kerja di bank, sambil perlahan bebenah. Siapa tahu, sebagian dari mereka bisa menyumbangkan tenaga dan ide-idenya sehingga dunia perbankan menjadi lebih baik.

Saya sebagai seorang blogger saja, tidak merasa pekerjaan paling suci. Bisa jadi, pendapatan yang saya peroleh semisal dari pembayaran artikel placement ada sebagian dari uang haram. Kok bisa? Yang seharusnya untuk beli susu anaknya, atau untuk keperluan mendasar keluarganya semisal untuk berobat keluarganya, atau yang seharusnya lebih penting mengirimkan uang untuk orang tuanya, justru untuk pasang artikel placement. Atau sebuah artikel yang begitu menyanjung terlalu berlebihan suatu produk, tapi menyembunyikan kekurangan atau kejelekannya. Tanpa saya sadari, saya juga terlibat dalam hal uang haram.

Ini hanya sekedar obrolan ringan di warung kopi. Menanggapi atau ikut nimbrung guyonan tentang yang lagi ramai mengajak hijrah kerja dari bank konvensioanal. Berhenti kerja dari bank konvensional. Eleh, tidak ngaruh. Yang keluar satu, yang antri ribuan. Kenapa berhenti bekerja dari Bank Konvensioanal? Sudah capek atau bosan, ingin mencari pengalaman lain atau dapat kerjaan yang lebih bagus. Sebuah jawaban yang lebih santai, dan tak kelihatan sok suci. Sekali lagi, sekedar obrolan, jangan terlalu dibawa ke hati. Beda pendapat hal wajar.

Related Posts

27 komentar:

  1. ya, memang setiap orang bebas berpendapat, sebagai orang lain tentu kita memiliki kewajiban untuk memfilter atau memilah, mana yang sekiranya baik, dan mana yang kurang.

    BalasHapus
  2. Hahahaha
    Ya, perdebatanan ga akan pernah habis Bang.
    Tidak terkecuali Halal dan Haram ini.
    Saran saja yang mau kelur kerja make sure sudah ada penghasilan sumber lain biar ga nanti jadi penyesalan dan buruknya menelurkan statement pembenaran atas banyak hal.

    Jadi saya setuju, sebagai masyarakat awam ga usah kaku-kaku amat...

    BalasHapus
  3. Hahahaha, entahlah mereka. Ya begitulah, lagi banyak yang hijrah, semoga saja hijrah beneran, dari jasmani dan rohani. Dan yang masih kerja di bank, buat saya ya gak masalah juga. Tanpa mereka yang kerja di lembaga keuangan, siapa juga yang akan mengatur uang-uang nasabah yang ada di bank?

    BalasHapus
  4. Kita serahkan kepada masing2 person mas sesuai prinsip hidupnya. Mereka yang tidak mau bank konvensional baiknya tidak menjudge yang masih di dalam sistem konvensional. Yang lainpun baiknya tidak menghakimi yang menghindar dari sistem riba. Damai pastinya

    BalasHapus
  5. No komen sih saya, kalau masalah pilihan hidup orang lain, bukan urusan saya buat mengurusin, karena saya juga butuh langsing hahahaha.

    Atau mungkin karena saya masih pakai bank konvensional kali yak, meski nabungnya di bank syariah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bank syariah, peranakan bank konvensional, aduh... kalau dirunut, sama saja :D

      Hapus
    2. Nah.. musti hati2 juga yak

      Hapus
  6. Wah, rumit juga urusannya. Tapi, kuncinya begini, mereka yang begitu yakin itu riba haram, bisa ngasih solusi yang bijak ga agar pegawai bank konvensional dapat pekerjaan baru yang lebih syar'i. Lalu, bagi nasabah banknya masa harus dipukul rata seperti itu. Yang bikin tambah pusing ga hanya bank saja yang dipermasalahkan, tapi juga nyari duit dari google adsense, cek ada artikel yang bahas itu (halal haram). Nice info

    BalasHapus
    Balasan
    1. Termasuk haram, karena meminta-minta orang untuk klik iklan atau minta follow atau disubscribe :D

      Hapus
  7. Saya sudah mengenal gerakan macam ini 2-3 tahun kebelakang. Saya sebut gerakan karena bersifat masive. Dimotori oleh kesadaran untuk secara total mengikuti ajaran Islam. Contoh salah satu pelopornya adalah Xbank Indonesia

    BalasHapus
  8. Gaji kerja di bank lumayan sih yah, apalagi BUMN. Hidup memang pilihan, kalau dengan keluar dari pekerjaan itu merasa hidup jadi lebih baik dan tenang yang silahkan, tapi well saya pribadi lumayan sangat membutuhkan bank, untuk transfer uang, kan masa pake wesel pos yah. Kalau dari segi riba, mungkin saat si bank minjemin duit pake bunga, tapi emangnya ada tetangga yang mau minjemin duit secra cuma2, yah ada sih tapi gak tau ada dimana.
    Saya sendiri pernah terlibat riba sampai 2x, tapi saya tidak beranggapan bahwa menggunakan jasa bank atau kerja di bank adalah sesuatu yang salah. Kalau emang bener2 butuh, mau gimana lagi yah pasti minjem duit sama bank, daripada rentenir yang bunganya edan edanan. Tapi dipikir - pikir punya utang emang bikin hidup gak tenang hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hutang satu juta sekarang/saat ini dan inginnya bayarnya 10 tahun kedepan tetap sejuta 😄
      Parah parah....

      Hapus
  9. nggak ada yang menjudge bang, itu pilihan mereka yang nyampaikan, juga kalau mau ikut silahkan, nggak ikut juga tidak apa-apa, semua pertanggung jawaban di hari kemudian sendiri-sendiri kan

    BalasHapus
  10. rupanya mentality seperti ini juga berlaku di sana ya? saya ingat orang di sini sahaja yang fikir sebegitu...

    BalasHapus
  11. duh kalau masalah ini mah, panjang urusannya om. banyak pemikiran sana sini dan intinya saling menghormati serta memandang dari banyak sisi dulu aja sih. temen baik ku kerja di Bank milik negara dan awal kerja di sana dia ditekan sama kakaknya (baru saja hijrah yg punya kebiasaan mudah mengharamkan segala hal) temen ku jadi stres sampai kerja pun nggak fokus tiap ketemu keluhannya sama. "aku resign aja ya" gitu terus katanya. karena dia berpikir kalau gaji yang diterima dari Bank itu haram hukumnya. lalu aku cuma kasih nasihat, kalau berhenti sekarang mau kerja apa? mau usaha? ada modal? yakin kalau berhenti kerja kakakmu berhenti nyinyir apalagi karena kalau pengangguran pasti lebih dinyinyirin lagi sama kakakmu. anggap saja gaji yang kamu dapat hasil keringatmu jadi halal. sama seperti pedangan buah yang dapat uang dari jual buah sama seseorang yang menghasilkan uang dari nyopet? apa uang itu jadi haram juga untuk si penjual buah. sama halnya nasabah bank yang bayar biaya admin untuk kemudahan tarik tunai, belanja pakai debet dan belanja online ya sama kaya naik angkot bayar ongkos angkot. ada banyak cerita yang di sosial media yang mengatakan kalau mereka berhenti kerja di bank lalu hidupnya semakin berkah dan semakin menanjak meningkat rizkinya, nggak salah juga tapi hidup orang lain nggak sama dengan hidup kita apa yang orang lain terapkan berhasil pada mereka belum tentu pada kita juga berhasil. intinya kalau mau berhenti kerja, punya rencana jelas dulu, kalau mau berhenti pakai uang riba pelan pelan dulu dan nggak usah menghalal haramkan sesuatu dengan begitu mudah hanya karena nggak sepaham dengan pemikiran kita. duh komenku panjang om mon maap ya.

    BalasHapus
  12. kalo aku sih ngikut perkataan orang tua :

    "Yang kita kerjain halal, maka duit hasilnya juga halal."

    Walaupun monmaap, walaupun asalnya dari mana.
    kan Niat sama efeknya tergantung yang dilakukan.

    misal :

    Emang kalo ada pelacur beli mi ayam terus uangnya dipake kang mi ayam buat beli susu anak, itu susunya jadi haram juga?

    Ngga deh kayaknya.

    Tapi adek ku sih waktu itu ngotot keluar dari Bank, walaupun orang tua udah nasehatin bahwa selama dia nggak ikutan makan duit riba dari hasil bunga dia, maka ngga apa-apa karena bayaran dia kan dari hasil kerjaan dia.

    Tapi solusi netral kali ya, bisa pindah ke bank syariah aja
    Yang niat dan akad nya lebih jelas, sehingga keuntungan invest jatohnya bukan bunga, tapi hasil penjualan yang keuntungannya dibagi dgn sistem kerjasama.

    BalasHapus
  13. Nanti kalau pada keluar semua terus yang kerja di bank siapa?..

    BalasHapus
  14. Hidup ini sebenarnya simpel, hanya manusianya sendirilah yang membuatnya jadi rumit.
    Jadilah diri sendiri, tidak usah ikut-ikutan apalagi lagi sampai mengajak orang-orang untuk mengikuti kemauan diri atau kepentingan sendiri...
    Ber-opini boleh akan tetapi berawasan luas lebih baik...
    Nice artikel Mas DB... Salam, :D

    BalasHapus
  15. Yang di atas foto profil saya tidak ada foto/gambarnya... Hem... fenomena apa ini

    BalasHapus
  16. Iya sih bang sebnrnya tergantung hati, iya saya sih normal aja karna saya orang awan.

    Masalh kayak hijrah dari perbankan itu hak pribadi,masalah haram atau tidak itu Gusti Allah yang maha mengetahui nya menurut saya

    BalasHapus
  17. saya juga pernah merasakan seperti ini pas di sekolah dulu dan mengerjakan laporan BOS.
    ada konflik batin

    kalau untuk bank saya belum bisa banyak komentar karena dari banyak ulama juga ada yang pro kontra.

    BalasHapus
  18. Sebagai orang awam tentang hukum agama, sikap kita itu bukan malah enak-enak, justru berhati-hati. Apalagi masalah hukum agama yang masih diperdebatkan, lebih amannya kita menghindari supaya tidak terjebak ke syubhat dan haramnya. Soal bunga bank, MUI sendiri sudah lama mengharamkan. Mayaoritas ulama pun berpendapat bunga bank itu riba dan riba adalah haram.

    Orang-orang yang sudah tsrlanjur bekerja di Bank kalau dia mampu ya harusnya keluar dari pekerjaannya. Jika belum punya persiapan dan kondisi tidak memungkinkan, ya bertahan dulu, sambil menunggu jalan keluarnya (wallahu'alam)
    Tapi bagi orang2 yang sudah tahu hukumnya bekerja di Bank konvensional, ya lebih baik jangan bekerja disana.

    Kalau kita sudah terjebak didalam lingkaran keburukan, bukan berarti pasrah menerima semuanya. Apa yang masih bisa kita hindari ya hindari.
    Contoh: uang kertas itu riba, tapi karena ini satu2nya alat pembayaran di negeri ini, ya terpaksa kita gunakan. Tapi keharaman riba yang lain bukan berarti leluasa kita niknati.

    Intinya kita tidak boleh bernyaman2 dalam masalah halal/haram yang masih kontroversi seperti ini. Sikap kita yang awam ini lebih baik menghindari semampu kita.

    (Wallahu'alam)

    BalasHapus
  19. Kalo permasalahan di atas, apalagi tentang halal dan haram, emang selalu banyak perdebatan, dan kayaknya nggak kelar-kelar.

    BalasHapus
  20. Gw suka kata-kata lu mas:

    'Jadi ikut stres. Kayak punya duit banyak yang ditaruh di bank saja.'


    Wkwkwkwk

    Kalo haram ya keluar, kalo nggak ya silakan bertahan. Tapi jangan lupa, yang katanya haram, pisahin tuh semua harta yang kalian dapet dari hasil kerja di bank konvensional. Rumah, mobil, tanah, apartemen, tabungan, baju, semuanya pokonya. Jual semuanya, uangnya silakan disedekahkan. Eh bukannya haram yah??? Kan hasil dari bank konvensional, haram juga dong??

    Nahh tuh kan bingung??? Mampus, mamam noh !

    Hidup kok pada ribet banget. Selama itu duit bukan hasil nyuri, rampok, korupsi, mengambil hak orang lain, yaudah sih. Kalo mau pake emas, mau nyari dimana negara pake mata uang emas?? Ampe lebaran kucing gak bakal nemu...

    Hidup itu udah ribet, jadi jangan ditambah ribet.

    BalasHapus
  21. Saya sepakat setiap orang punya pikiran dan pendapat masing-masing. Nggak perlu ngurusin orang lain :) terus belajar untuk hidup yang lebih baik, iya gak sih.....

    BalasHapus
  22. Sudah kah ada solusi tandingan untuk itu? Selama belum, mungkin bisa menikmati sj yg ada dg batasan pribadi.

    Ketika masih makan dan menggunakan ap yg msh dianggap tdk ssuai, rasanya #kesadarandiri perlu dimasa sekarang ini.

    Tak perlu maling teriak maling
    Enjoy nikmati hidup yang penuh warna dengan baik

    BalasHapus

 
Back To Top