Mengenang Jajanan Jaman Kecil, Ice Cream Dung-Dung

Jajan Es Krim

Masa kecil, memang tak kan bisa terlepaskan dari ingatan. Kenangan itu terus terbayang. Karena masa kecil adalah bagian dari sejarah kehidupan. Sebuah serpihan masa lalu yang terus melekat didalam sanubari. Alur ceritanya kadang dengan tiba-tiba merangkak dan menyusup dalam otak. Kisah itu menjadi hidup kembali. Aku terbawa oleh suasana silam. Masa kanak-kanak yang begitu membahagiakan.

Aduh, kok jadi cengeng gini. Ah beberapa hari ini, memang aku lagi dilanda kegalauan dan kerisauhan hati. Entah suara setan darimana, yang tidak jelas juntrungnya membisikan rasa was-was dan kawatir. Aku jadi cemas dan ketidakpercayaan diri. Bisikan setan itu mematahkan semangat dalam hidupku. Aku dipaksa untuk berputus ada.

Wah kalau sudah begini, aku harus berani melawannya. Tidak akan aku biarkan, setan itu menang. Hatiku tidak boleh meragukan kasih-sayang dan rahmad kebesaran Tuhan. Sang maha memberi rezeki. Aku tidak boleh pesimis. Aku harus menguatkan rasa tauhid dalam kenyakinanku.

Ah paling asek keluar rumah. Berkuliner ria. Biar pikiran tidak kacau balau. Karena sejatinya hidup ini adalah anugrah, untuk menyaksikan akan kebesaran Tuhan. Sambil melihat kesibukan orang yang senantiasa berlalu-lalang. Para pedagang yang terus menekuni profesinya. Tetap tersenyum dan ramah melayani pembeli. Walau sebenarnya, tidak seberapa keuntungan yang diperolehnya.


Penjual es krim gerobak yang menjadi sorotan perhatianku. Seorang pedagang asal Bandung, yang katanya sudah lama berjualan es krim. Kalau dikampung saya, namanya es krim dung-dung. Entahlah, kalau di tempat lain apa namanya.

Ice Cream Dung-Dung, di tahun 90-an, mungkin menjadi primadona. Karena tidak ada persaingan yang ketat. Es krim olahan pabrik belumlah semarak sekarang. Lihat dan perhatikan saja, hampir setiap warung kini menjual es krim buatan pabrik. Dengan harga yang sangat terjangkau pula.

Sampai kapan es dung-dung ini akan terus bertahan? Biarkan waktu yang akan membuktikannya. Sebuah jajanan legendaris, tapi perlahan terkikis oleh perkembangan jaman. Akankah nanti akan tinggal sebuah kenangan? Ah, itu mah tidak penting, yang lebih utama adalah tekan tombol subsribe-nya. Weleh, ternyata ada udang dibalik batu. Promosi gitul lo!

Related Posts

10 komentar:

  1. Ya mas.. es dung dung, mungkin sama gak dengan es puter?
    Kalo saya beli es puter.. sampai habis dua mangkok.. hahahaha

    BalasHapus
  2. sekarang masih saya jumpai dikampung bang dan aku suka makan es ini

    BalasHapus
  3. Kalau di tempat saya namanya es tung tung. Tapi sayangnya sudah hampir tidak ada yang jualan lagi, huu sedih.

    BalasHapus
  4. Kalau di tempat saya namanya es nong-nong. Penjualnya pun masih banyak di sini. Malah ada yang tiap hari lewat depan rumah. Kecuali kalo sudah masuk musim hujan, yang hujannya tiap hari gitu, baru mereka ngilang, ganti profesi mungkin :-D tapi meskipun musim hujan masih ada aja kok yang tetap setia jualan es nong-nong :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emot nya kok berubah jadi gitu ya??? Bingung saya, suerrr... ha ha ha

      Hapus
  5. Rasa ice dung dung memang bertahan ya tapi cara penjualannya udh mulai bergeser ke lebih modern sekarang ini

    BalasHapus
  6. Udah jarang sy liat jualan es dung dung... Salah satu jajanan yg selalu dutunggu" dr jmn sy kecil wk wk

    BalasHapus
  7. Aku suka karena murah. Enak lagi... Tapi dung2 ini sekarang di pake merk es krim pabrikan...

    BalasHapus

 
Back To Top