Kenapa Tahun Politik Terjadi Kelangkaan Gas 3 Kg?

Kelangkaan Gas 3 Kg

Entah tahun berapa saya lupa, gas 3 kg atau yang lebih terkenalnya dengan gas milon menjadi ajang bahan kampanye saat pemilihan presiden. Semua kubu saling mengklaim, bahwa kebijakan atau digelontorkan gas 3 kg berkat idenya. Berkat keberhasilannya dalam berpihak ke rakyat sebagai pengganti atau konversi dari penggunaan minyak tanah. Sehingga saat pemilu tersebut, entah dimedia elektronik atau cetak, mudah dijumpai orang atau tokoh berphoste dengan gas milon. Benar-benar mirip artis saja gas 3 kg saat itu. Begitu tenarnya.

Nah saat gas milon sudah menjadi kebutuhan wajib, dengan hilangnya bahan bakar minyak tanah. Dengan dipastikannya, kini rakyat sudah hampir beralih menggunakan gas 3 kg dalam urusan memasak. Ternyata pemerintah kewalahan juga dalam menyediakan keberadaan gas 3 kg dilapangan. Peminat maupun penggemar gas 3 kg, gas yang bersubsidi membludak, diluar kendali. Diluar perkiraan pemerintah.

Gas milon yang sempat digadang-gadang dan menjadi kebanggan pemerintah, kini menjadi bomerang sendiri. Pemerintah serba-salah dan serba repot jika berbica tentang gas 3 kg ini. Dan konon katanya, keberadaan gas bersubsidi ini menggerogoti anggaran belanja pemerintahan. Pemerintah sudah pontang-panting. Dari rencana penjualan dengan sistem tertutup yang belum terwujud. Membatasi peredaran agar tepat sasaran, ternyata juga amburadul.

Sedangkan rakyat, tahunya kelangsungan dan keberadaan gas milon harus tetap ada. Dengan harga yang murah pula. Harus ada dipasaran dan mudah didapatkan. Rakyat enggan beralih ke gas 5 kg maupun yang 12 kg, karena harganya yang mahal. Sudah gitu, repot membawa atau menentengnya.

Sudah dua minggu ini, menurut pengamatan saya. Wah saya ini benar-benar mirip pegawai kementrian perdagangan saja. Suka sidak, dan suka mengamati peredaran produk pasaran. Stock gas 3 kg sulit didapatkan. Sebagian warga atau masyarakat, harus rela keliling warung ke warung untuk mendapatkan gas milon ini. Warung pun tidak akan menjualnya, jika pembeli itu bukan langganannya. Seandainya menjual pastinya dengan harga yang tinggi, berkisaran diatas dua puluh ribuan rupiah.

Sungguh ironi. Ditahun politik, keberadaan gas subsidi 3 kg sampai mengalami kelangkaan. Gas 3 kg bukan saja berbicara soal urusan dapur saja. Tapi juga bisa menjadi bahan konsumsi politik. Jika rakyat lapar, suaranya akan keras melengking. Dan lebih parahnya bisa melawan. Semoga saja, pemerintah segera bisa mengatasi keberadaan gas subsidi ini. Rakyat kenyang, pikiran tenang dan  tidurpun nyenyak. Kalau pemerintah saat ini jika ingin menang kembali.

Related Posts

10 komentar:

  1. sampean bukan petugas kementerian mas, tapi tepatnya wartawan ilegal hahaha

    BalasHapus
  2. Hmmmm sepertinya emang ada hubungannya ya mas

    Tapi udah diprediksi dari dulu sih, makin lama BBM dan Gas akan amkin sulit

    makanya sekarang teknologi bio gas dan bio oil agi dikembangkan banget

    Semoga suatu hari membuahkan hasilll :)

    BalasHapus
  3. Sepertinya ini akan terus menjadi polemik diantara batas kesenjangan sosial.
    permintaan banyak, tapi pertamina memperoduksi sangat sedikit.
    jadilah kondisi seperti ini.. CMIIW

    BalasHapus
    Balasan
    1. barang yg sangat dicari wajar saja kalo kehabisan stok yah, lagipula barang nya banyak dipake usaha jadi beli tiga empat malah, buat warga untuk masak gk kebagian

      Hapus
  4. Kalau beralih ke gas 5/12kg sudah pasti berat banget karena harganya sangat mahal. Gas alam lumayan lebih murah jatuhnya per bulan tapi belum banyak yang pasang. Sedih sih lihat yang miskin tambah sulit hidupnya..

    BalasHapus
  5. Cuma di Indonesia,gas 3 kg diperebutkan dan dipermainkan elite politic. Saya pernah sekali ngalamin susah beli gas 3 kg, tapi bukan pas menjelang pemilu sih, Kebetulan aja lagi langka. Saya juga punya yang 12 kg, nganggur gitu aja. Lebih irit dan efisien yang 3 kg

    BalasHapus
  6. Seperti lagu lama dengan cover baru...Atau maju kena mundur..😄

    Dahulu pemerintah berkata bahwa pasokan gas di negara indonesia sangat berlimpah ketimbang minyak tanah...Tapi kenyataannya sekarang tak ubahnya seperti minyak tanah kembali..😄😄 Serba sulit dan langkah..

    Bahkan gembar gembor menghilangkan gas 3Kg sempat santer...Dan akan diganti dengan gas berwarna pink 5Kg. Tetapi kenyataannya cuma ngepink2 saja..😄😂😂😂

    BalasHapus
  7. didaerahku belum ngalamin sih ini
    ngga tau juga nanti
    mungkin saja ada batasan produksi , tapi permintaan banyak , padahl di Gas ada tulisan untuk rakyat miskin
    ,, saya yg UKM juga pake Gas ini . karna kata Pak De jokowi UKM boleh pake Gas ini

    BalasHapus
  8. Kasia penjual kecil atau gerobak dorong ya. Seperti penjual bakso dan mia ayam keliling, kan butuh gas 3 kg. Ah, jangan diumppetin dunk ya, buat hajat hidup orang banyak ini.

    BalasHapus
  9. Kalaj disuruh beralih ke gas elpiji 5 kg mah ogah . Pasti banyak yang protes karena harganya yang mahal. Semoga pemerintah semakin mengerti kebutuhan rakyat agar rakyat bisa kenyang, hidup tenang dan nyaman.

    BalasHapus

 
Back To Top