Sesuatu yang terjadi puluhan tahun silam di malam kelam 30 September seolah enggan mengendap menjadi abu dingin dalam buku pelajaran. Peristiwa tersebut memiliki daya hidup yang aneh, ia terus bergeser dari sekadar catatan masa lalu menjadi konsumsi informasi harian yang selalu segar. Publik Indonesia seakan dikondisikan untuk masuk ke dalam lorong waktu yang sama setiap tahunnya, menyusuri trauma dan perdebatan yang tak pernah benar-benar tuntas.
Di balik riuk-riuk yang muncul saban tanggal 30 September, ada jurang narasumber hang belum sepenuhnya terjembatani. Sejarah kelam ini adalah mozaik dengan beberapa kepingan yang masih diperdebatkan oleh para sejarawan dan masyarakat sipil. Ketika sebuah bangsa belum mencapai titik temu yang solid atas masa lalunya, setiap percikan informasi baru menjelang 30 September akan dengan mudah menyulut ingatan kolektif yang belum sembuh total.
Sisi politik pun mengambil peran besar dalam merawat gaung peristiwa 30 September agar tetap menyala. Isu kelam tersebut sering kali menjelma menjadi panggung drama yang paling mudah dimanfaatkan untuk menguji tensi politik nasional. Bungkusan narasi kewaspadaan ideologi maupun desakan penyelesaian hak asasi manusia selalu berhasil memilah publik ke dalam sudut-sudut yang bertolak belakang setiap kali tanggal ini tiba.
Lalu hadir media digital dengan algoritma modernnya yang jeli menangkap emosi publik di seputar tanggal 30 September. Dalam industri berita modern, kontroversi yang memicu perdebatan sengit adalah magnet terbaik untuk memicu interaksi dan kunjungan halaman. Liputan seputar 30 September memenuhi seluruh syarat itu: adonan sempurna antara trauma sejarah, ketegangan politik, dan sintimen emosional penikmat berita.
Tidak bisa dipungkiri pula bahwa serangkaian simbol protokoler turut menjaga siklus 30 September ini tetap hidup. Keputusan instansi resmi mengenai ritual pengibaran bendera setengah tiang atau instruksi menonton kembali dokumen audio visual masa lalu selalu menyediakan pemantik instan bagi kerja-kerja jurnalistik. Dari sebuah surat edaran kecil di daerah, gelombangnya bisa bergulir menjadi diskusi panas skala nasional.
Fenomena langganan berita 30 September ini pada akhirnya memperlihatkan betapa kolektifnya ingatan kita sebagai sebuah bangsa. Kita seolah terjebak dalam lingkaran tahunan tempat pertanyaan yang sama diajukan, perdebatan serupa diulang, namun jawabannya yang memuaskan semua pihak tak pernah benar-benar dirumuskan. Sejarah yang seharusnya menjadi cermin tempat kita belajar, kerap kalo hanya berakhir menjadi dekorasi panggung berita musiman.
Pada akhirnya, selama rekonsiliasi emosional dan pemaknaan sejarah belum benar-benar selesai di akar rumput, tanggal 30 September akan selalu menjadi muara yang sama. Media akan terus menyediakan panggungnya, dan publik akan terus menjadi penonton setia dari narasi berulang yang tak pernah kehilangan daya pikatnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar