Momentum pameran ini terasa sangat pas karena bertepatan dengan masa liburan sekolah, sehingga kawasan TIM ramai dikunjungi oleh keluarga dan pelajar. Menariknya, antrean masuk ke Planetarium Jakarta yang membludak dan kadang sampai membuat pengunjung kehabisan kuota masuk ke Planetarium, justru membawa berkah tersendiri bagi ruang seni rupa. Alih-alih pulang dengan kecewa, banyak pengunjung yang akhirnya memanfaatkan waktu mereka untuk datang ke pameran lukisan galeri ini sebagai alternatif edukasi budaya yang tidak kalah memikat.
Kondisi tersebut diakui oleh salah satu pengunjung asal Tangerang, yang sengaja datang jauh-jauh untuk mengisi waktu libur buah hatinya, namun terbentur oleh keterbatasan kuota pertunjukan bintang. "Awalnya anak-anak sempat kecewa karena antrean Planetarium luar biasa membludak dan kami kehabisan kuota masuk. Daripada langsung pulang, saya ajak anak-anak masuk ke galeri ini. Ternyata pameran lukisan ini sangat edukatif, mereka malah senan," ujarnya di lokasi pameran.
Lahir pada 17 Maret 1926 di Kurai Tani, Pariaman, Sumatera Barat, Zaini menempuh perjalanan artistik yang panjang dengan belajar langsung dengan tokoh-tokoh besar seperti Wakidi di INS Kayutan, serta S.Sudjono, Basuki Abdullah, dan Affandi pada periode 1942-1945. Karakter lukisannya sangat khas, berfokus pada alam benda, pemandangan alam, hewan, tetumbuhan hingga perahu-perahu. Bersama Oesman Effendi, Nashar, dan Rusli, Zaini menjadi bagian dari deretan pelukis asal Sumatera yang turut memperkaya sekaligus memperkuat corak seni lukis modern Indonesia di Jakarta sejak era 1970-an.
Judul pameran "Menyimak Kabut" sendiri meminjam kritisisme dari kritikus seni senior, Bambang Bujono. Pada pertengahan 1970-an, Bambang mengidentifikasi adanya fenomena "kabut" pada kanvas-kanvas Zaini, sebuah suasana mengudara lewat sapuan warna tanpa rupa, di mana bentuk lebur dan warna membaur. Pameran ini sengaja dikurasi untuk mengajak pengunjung menembus tirai kondensasi visual tersebut, guna menelaah ekologinya secara mendalam dan melihat bagaimana sang seniman menyajikan realitas apa adanya.
Sebagaimana sosok multidimensional, kontribusi Zaini tidak hanya terbatas pada kanvas semata. Sepanjang hidupnya, ia aktif berorganisasi selama kurang lebih tiga dekade, mulai dari Seniman Masyarakat, Seniman Indonesia Muda (SIM) pada 1946, hingga Gabungan Pelukis Indonesia (GPI) pada tahun 1948. Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang turut membangun Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak 1968, merancang kurikulum seni lukis LPKJ (kini Institut Kesenian Jakarta/IKJ), mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta sejak 1971-1976, serta aktif sebagai redaktur majalah sastra dan budaya Horison sebelum wafat di Jakarta pada 25 September 1977.
Eksplorasi pameran di TIM kali ini sengaja dibagi menjadi dua ruang utama yang saling melengkapi dalam situasi tata pajang pameran yang tidak diakronis. Di galeri Cipta I, penikmat seni disuguhkan penelusuran perjalanan Zaini dalam mengabstraksi pokok perupaan. Ruang ini menonjolkan transisi palet warnanya yang bergeser dari sapuan warna pastel yang empuk menuju nuansa kelam yang subtil dan penuh perenungan.
Sementara itu, beralih ke Galeri Cipta II, fokus pameran ditekankan pada kekuatan utama Zaini lainnya yaitu garis. Di ruangan ini, pengunjung dapat menyaksikan deretan sketsa, vinyet, drawing, serta eksperimen monotipe yang dilakukan secara spontan. Koleksi di galeri kedua ini membuktikan keandalan dan kecekatan tangan Zaini sebagai penoreh garis yang jitu, yang secara konsisten mampu menjaga keseimbangan komposisi meski bergulat dengan perbendaharaan subjek yang sama.
Secara keseluruhan, pameran "Menyibak Kabut" bukan sekadar seremoni mengenang seratus tahun kelahiran Zaini, melainkan sebuah upaya reorientasi penting untuk memosisikan kembali nama besar sang seniman dalam sejarah psikoarsitektur Taman Ismail Marzuki yang baru. Melalui pameran ini, karya-karya Zaini yang lama berserakan dihadirkan kembali untuk mengajak publik lintas generasi membiasakan diri membaca anomali cuaca di dalam dan luar suatu lukisan, menyambut esensi kepelukisan yang bergerak bebas di jalannya menderang.
#sumber dari brosur yang dipinjamkan saat pameran










Tidak ada komentar:
Posting Komentar