Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari publik. Selain mengganggu kenyamanan dan mengancam keselamatan, aktivitas jalanan ini dinilai ironis karena lokasinya yang terbilang cukup dekat dengan Kantor Kelurahan Pegangsaan Dua.
Ancaman Keselamatan di Jalan Raya
Berdasarkan pantauan di lokasi, para penjual tisu, yang mayoritas masih berusia anak-anak, sering kali nekat mendekati mobil dan motor yang sedang berhenti. Tidak jarang, mereka tetap bertahan di badan jalan meski lampu lalu lintas sudah berubah warna hijau dan kendaraan mulai bergerak.
Kondisi ini menciptakan kondisi ganda. Di satu sisi, pengendara merasa cemas dan terganggu konsentrasinya karena khawatir menyenggol mereka. Di sisi lain, keselamatan penjual tisu itu sendiri sangat terancam oleh arus kendaraan hang kerap melaju kencang di jalur utama Kelapa Gading tersebut.
Sorotan Jarak yang Dekat dengan Kantor Pemerintah
Keberadaan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di titik ini memicu pertanyaan dari warga. Jarak antara lampu merah Boulevard Utara Raya dengan Kantor Kelurahan Pegangsaan Dua yang relatif dekat dinilai seharusnya membuat pengawasan bisa dilakukan dengan lebih cepat dan intensif.
Salah seorang pengendara mobil yang kerap melintas jalur tersebut, Hendra (35, nama samaran), mengungkapkan kekhawatirannya sekaligus keheranannya.
"Setiap pulang kerja lewat sini, makin banyak anak-anak yang jualan tisu. Kasihan lihatnya, tapi jujur juga bikin khawatir. Takutnya pas kita mau jalan, mereka enggak kelihatan. Padahal kalau diperhatikan, lampu merah ini kan posisinya dekat dengan kantor kelurahan. Harusnya bisa lebih cepat dipantau dan diterbitkan oleh petugas setempat," ujar Hendra.
Desakan Solusi Komprehensif
Masalah ini bukan sekadar pelanggaran ketertiban umum biasa, melainkan juga isu sosial dan perlindungan anak yang memerlukan tindakan tegas serta humanis. Warga berharap pihak Kelurahan Pegangsaan Dua bersama Satpol PP dan Dinas Sosial Kota Jakarta Utara tidak tutup mata dan segera turun tangan.
Masyarakat meminta adanya langkah nyata, mulai dari patroli rutin di titik tersebut hingga pembinaan kepada orang tua anak-anak tersebut. Langkah ini dinilai penting agar anak-anak tidak lagi dibiarkan bertaruh nyawa di Jalan raya demi rupiah, sekaligus mengembalikan kenyamanan serta keselamatan bagi seluruh pengguna jalan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar