Pengguna jalan dan warga setempat kini harus berhadapan dengan situasi yang mengganggu aktivitas dan kesehatan. Selain menyebabkan penyempitan jalur, tumpukan sampah terbuka ini telah menimbulkan bau busuk menyengat dan mengundang ribuan belatung yang mulai bermigrasi ke aspal. Kondisi diperparah dengan genangan air lindi (limbah cair) hitam yang membuat jalan menjadi licin dan berisiko menyebabkan penyakit.
"Setiap hari lewat sini harus tutup hidung. Jalannya sempit dan licin. Geli juga melihat belatung di mana-mana. Padahal Kantor Lurah dekat, kok dibiarkan?" keluh seorang warga yang melintas.
Kedekatan jarak dengan kantor kelurahan ternyata tidak menjamin penanganan sampah menjadi lebih responsif karena adanya masalah overkapasitas yang ekstrem. Sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Jakarta Timur yang dikelilingi industri, TTPS Jalan Inspeksi Pool PPD dipaksa menampung volume limbah harian yang jauh melampaui daya tampung awalnya. Sampah dari berbagai sektor terus mengalir tanpa henti, membuat area penampungan overload dalam sekejap.
Faktor utama yang membuat sampah tersebut sampai menjajah jalan adalah lambatnya siklus pengangkutan oleh armada truk sampah. Ketika truk dari Suku Dinas Lingkungan Hidup terlambat tiba akibat kemacetan di jalan atau antrean panjang di TPST Bantargebang, ritme pembuangan dari gerobak warga otomatis langsung tersendat. Akibatnya, material sampah dari hulu langsung menumpuk tak terkendali dan meluber ke fasilitas umum dalam hitungan jam.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya infrastruktur sekat pembatas dan sistem pemilahan yang layak di area TPSS. Karena masih menerapkan metode open dumping (penumpukan terbuka) tanpa dinding penahan yang kokoh ataupun bak kontrol drainase, material sampah dengan mudah longsor ke jalur aktif kendaraan. Air lindi yang beracun pun mengalir bebas ke aspal tanpa ada sistem penyaringan yang memadai.
Jika ditarik ke urusan yang lebih luas, kasus di Jalan Inspeksi Pol PPD Cakung Barat ini adalah miniatur dari krisis sampah DKI Jakarta yang mulai kehabisan opsi pembuangan akhir akibat kapasitas Bantargebang yang kian kritis. Belum masifnya budaya memilah sampah di tingkat rumah tangga serta proyek pengolahan sampah modern (Intermediate Treatment Facility/ITF) di dalam kota yang kerap mandek, membuat ibu kota terus menerus kewalahan dan terkesan "gagap" dalam menangani tumpukan limbah sendiri.
Kondisi sampah Jalan Inspeksi Pool PPD Cakung Barat ini menjadi alarm keras yang membutuhkan aksi darurat nyata dari pihak Kelurahan Cakung Barat dan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, bukan sekadar rapat koordinasi. Warga mendesak adanya pengerahan alat berat untuk membersihkan total segera, penyemprotan disinfektan massal untuk membasmi wabah belatung, serta pembangunan pagar pembatas permanen agar sampah tidak lagi merenggut hak para pengguna jalan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar