Pria itu adalah Pak Sukar (nama samaran, 62), seorang perantau asal Pati, Jawa Tengah, yang telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk berjualan garam keliling di Jakarta. Sejak tahun 1987, ia konsisten menyusuri jalanan ibu kota, menyetorkan dari satu warung ke warung lainnya.
Keputusannya merantau puluhan tahun lalu bermodal nekat demi mengubah nasib. Berbeda dengan pedagang garam pikulan, sejak awal Pak Sukar memilih sistem jemput bola dengan menyasar warung-warung sembako kecil sebagai pelanggan tetapnya. Garam krosok dan garam meja yang ia jual didatangkan langsung dari tanah kelahirannya, Pati, yang dikenal sebagai salah satu lumbung garam terbaik.
Perjalanan tiga dekade lebih ini tentu membawa banyak perubahan, terutama pada sarana transportasi yang digunakannya untuk mengais rezeki. Pada awal ia merintis usaha di tahun 1987, Pak Sukar mengandalkan onthel tua. Setiap hari, ia harus menguras tenaga ekstra untuk mengayuh sepeda dengan beban puluhan kilogram garam yang diikat di boncengan belakang, melewati jalanan Jakarta yang kala itu belum semulus sekarang. Jarak tempuh yang terbatas membuat jangkauan pasar warungnya belum terlalu luas.
Seiring dengan perjalanan waktu dan tuntutan zaman yang kian cepat, Pak Sukar akhirnya beralih menggunakan sepeda motor. Sebuah keranjang terpal tebal berukuran besar kini bertengger di kok belakangnya. Penggunaan keranjang terpal ini bukan tanpa alasan, selain mampu menampung muatan hingga 80 kilogram sekali jalan, bahan terpal yang kedap air juga sangat diandalkan untuk melindungi rontokan garam dari guyuran hujan mendadak khas ibu kota.
Peralihan ke roda dua bermesin ini membuatnya mampu bergerak lincah membelah kemacetan, menjangkau puluhan warung langganan yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta dalam sehari dengan efisiensi waktu yang jauh lebih baik.
Meski teknologi transportasi berubah, sistem penjualan Pak Sukar tetap mempertahankan kehangatan personal. Ia tidak sekadar mengantar barang, tetapi juga membangun hubungan baik dengan para pemilik warung. Karakter garam Pati yang asinnya pas dan kualitasnya konsisten membuat para pemilik warung enggan berpaling ke pemasok lain.
Dari kayuhan sepeda hingga putaran gas motor, kerja keras Pak Sukar membuahkan hasil manis. Dari setiap butir garam yang ia setorkan ke warung-warung, ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus berpendidikan tinggi di Jawa Tengah.
Baginya, perubahan dari sepeda ke sepeda motor, serta adaptasi menggunakan keranjang terpal, adalah simbol perjuangan agar tidak tergerus zaman. Selama warung-warung di Jakarta masih membutuhkan rasa asin dalam masakan mereka, Pak Sukar mengaku akan terus membelah kemacetan ibu kota bersama motor dan keranjang terpalnya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar