Jembatan yang menjadi penghubung vital antara Sukapura dan Kelapa Gading ini kerap dilintasi kendaraan dengan kecepatan sedang hingga tinggi. Keberadaan pembatas beton di tengah ruas jalan tanpa penerangan dan rambu petunjuk yang memadai berpotensi
memicu kecelakaan lalu lintas.
Menurut sejumlah pengendara, letak pembatas beton yang berada tepat di area lintasan jembatan membuat jarak pandang menjadi terbatas. Pengendara sering kali baru menyadari keberadaan separator beton tersebut saat posisi kendaraan sudah sangat dekat.
Kondisi ini makin membahayakan ketika melintas pada malam hari atau saat cuaca buruk seperti hujan deras. Minimnya pemantul cahaya (reflektor) atau tanda peringatan resmi membuat struktur beton tersebut membaur dengan warna aspal jalan di sekitarnya.
Melihat bahaya yang terus mengintai, warga Sukapura dan pengguna jalan berinisiatif memberi tanda peringatan dengan bahan seadanya. Mereka memasang tiang kayu darurat dan mengikat pita berikade berwarna kuning-hitam di ujung beton agar lebih mudah terlihat dari kejauhan.
Meski demikian, penandaan swadaya tersebut dianggap masih kurang optimal dan rentan rusak terkena angin maupun hujan. Tanpa adanya rambu resmi bertanda pemantul cahaya dan penerangan jalan yang memadai, potensi bahaya bagi pengendara roda dua maupun roda empat tetap tinggi.
Beberapa warga setempat mengaku kerap melihat kendaraan mendadak mengerem atau meliuk mendadak demi menghindari benturan dengan beton pembatas. Hal ini tidak hanya membahayakan pengendara bersangkutan, tetapi juga berisiko memicu tabrakan beruntun dari arah belakang
Masyarakat Sukapura dan sekitarnya berharap dinas terkait, khususnya Dinas Perhubungan maupun Dinas Bina Marga, dapat segera turun tangan melakukan evaluasi. Pemasangan rambu petunjuk resmi, stiker pemantul cahaya yang jelas, serta penambahan lampu penerangan jalan sangat mendesak dilakukan demi keselamatan bersama.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar