Sejak pagi hari, kawasan Rawa Terate sudah dipadati pengunjung yang antusias menyaksikan kebolehan anak-anak muda memainkan aneka permainan tradisional Betawi. Gelak tawa dan sorak-sorai pecah saat para peserta beradu Ketangkasan bermain ketapel, engklek, gangsing, hingga kelereng. Permainan nostalgia ini sengaja dihidupkan kembali untuk mengenalkan generasi muda pada hiburan masa lalu yang mulai tergerus zaman digital, sekaligus mempererat rasa kebersamaan antarwarga.
Namun, kemeriahan festival ini ternyata tidak berhenti saat matahari terbenam. Berbeda dengan agenda siang yang focus pada permainan dan tarian rakyat, rangkaian acara ini yang sarat energi seperti tabuhan hadroh, atraksi pencak silat, dan tradisi palang pintu justru dijadwalkan untuk memukau penonton pada malam hari. Suasana malam di Kampung Petukangan pun berubah menjadi semakin semarak dan magis dengan hadirnya berbahagia kesenian tersebut.
Kendati konsep pembagian waktu acara sudah tertata, hal ini sempat memicu rasa penasaran di kalangan pengunjung. Banyak warga dan tamu yang bertanya-tanya mengapa agenda besar seperti peresmian acara oleh Pak Lurah Rawa Terate, Pencak Silat, hingga arak-arakan Ondel-Ondel baru digelar pada malam hari, tepatnya setelah Banda Isya, alih-alih di pagi atau siang hari seperti festival pada umumnya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, pihak panitia penyelenggara menjelaskan bahwa penempatan agenda ini di malam hari didasari oleh pertimbangan efektivitas dan kekhidmatan acara. Dengan memilih malam hari, Pak Lurah Rawa Terate beserta jajaran aparatur kelurahan dan tokoh masyarakat dapat hadir secara penuh tanpa terbentur tugas pelayanan publik atau urusan kedinasan di siang hari, sehingga interaksi dengan warga menjadi jauh lebih leluasa.

Selain itu, pemilihan waktu bakda Isya untuk pertunjukan hadroh, pencak silat, palang pintu, dan pawai Ondel-Ondel juga bertujuan untuk menjaga kelancaran lalu lintas. Jalan KRT Radjiman Wedyodiningrat merupakan jalur yang cukup padat aktivitas ekonomi di siang hari, sehingga malam hari dinilai sebagai waktu yang jauh lebih aman, kondusif, dan nyaman, terutama karena udara yang lebih sejuk meringankan stamina para pengisi acara maupun pemikul kostum Ondel-Ondel.
Puncak yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba ketika Pak Lurah Rawa Terate naik panggung utama untuk meresmikan Gebyar Budaya Betawi secara resmi selepas bakda Isya. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan warga RT 04/RW 04 yang solid memelihara identitas Jakarta, seraya berpesan agar semangat gotong royong ini terus dipelihara.
Kemeriahan malam pun mencapai klimaksnya tatkala alunan selawat dan rebana hadroh menggema dinamis, disusul aksi tangkas pencak silat dan palang pintu, serta kemunculan ikonik Ondel-Ondel yang berjalan gagah diiringi kerlap-kerlip lampu hias. Arak-arakan menyusuri jalanan Kp Petukangan dengan penuh suka cita, menutup perhelatan budaya ini dengan kesan mendalam bahwa warisan leluhur akan terus hidup dan dicintai masyarakat.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar