Perhelatan bergengsi ini diresmikan secara langsung oleh perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Utara. Dalam sambutan pembukaannya, kehadiran pejabat daerah ini memberikan pengakuan penting terhadap bakat-bakat seni yang tumbuh di sekolah-sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam mengawal potensi non-akademik siswa agar terus berkembang selaras dengan kecerdasan intelektual mereka.
Peserta yang memadati lokasi berasal dari berbagai Sekolah Dasar negeri maupun swasta di seluruh wilayah Kecamatan Cilincing. Persaingan terlihat sangat kompetitif karena setiap sekolah mengirimkan delegasi terbaik hasil tempaan ekstrakurikuler selama berbulan-bulan. Semangat sportivitas dan antusiasme meluap di area sekolah, menciptakan atmosfer kompetisi yang hangat namun penuh dengan gairah kreativitas yang tinggi.
Pantomim kini telah bertransformasi menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang sangat diminati oleh siswa. Seni ini menuntut focus yang luar biasa serta sinkronisasi sempurna antara gerak fisik dan ledakan emosi. Para peserta ditantang untuk membangun sebuah dunia hanya dengan gerakan tangan dan mimik wajah, sebuah proses yang secara tidak langsung mengasah kecerdasan kinestetik mereka sejak dini.
Secara historis, pantomim merupakan warisan seni yang berakar dari tradisi Yunani Kuno yang dikenal dengan istilah Pantomimus. Seni ini kemudian mencapai puncak estetikanya di Perancis dan dipopulerkan secara global oleh tokoh legendaris seperti Charlie Chaplin. Nilai sejarah inilah yang ditanamkan kepada para siswa, bahwa mereka bukan sekadar menghibur, melainkan sedang melanjutkan tradisi seni pertunjukan yang telah mendunia selama berabad-abad.
Di tengah riuhnya acara, Bapak pengajar eskul pantomim dari SDN Sukapura 04 (Bapak Eki/40) berbagi pandangan menarik mengenai evolusi ajang ini. Beliau menjelaskan bahwa perubahan dari FLS2N menjadi FLS3N di tahun 2026 mencerminkan adanya napas baru dalam dunia pendidikan seni. Penambahan aspek "Sastra" dalam kompetisi ini membuat pantomim kini tidak hanya soal gerak tubuh, tetapi juga soal kedalaman struktur cerita dan narasi visual yang lebih puitis.
Beliau juga menekankan betapa krusialnya seni ini bagi perkembangan mental anak-anak di level sekolah dasar. "Seni Pantomim ini sebenarnya adalah alat untuk menunjang perkembangan motorik sekaligus melatih cara pikir anak-anak kita," ungkapnya dengan penuh semangat, walau enggan untuk diphoto, malu. Dengan belajar menirukan benda atau situasi, anak-anak dipaksa untuk mengamati detail kehidupan di sekitar mereka secara lebih seksama.
Lebih lanjut, pengajar eskul tersebut melihat bahwa panggung FLS3N ini adalah laboratorium kreativitas bagi para siswa. "Kita meramu semua unsur itu untuk membangun kreativitas yang lebih maju, agar ke depannya mereka lebih berani bereksperimen dengan ekspresi unik mereka masing-masing, " tambahnya. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan modern yang mendorong anak untuk menemukan "suaranya" sendiri dalam bentuk yang paling kreatif.
![]() |
| Juri Pantomim |
![]() |
| Tamu Kehormatan |
![]() |
| Delegasi SDN 04 Sukapura |
Kriteria penilaian dalam kompetisi tahun ini pun menjadi sangat mendalam, mencakup orisinalitas ide cerita hingga ketepatan teknik mimesis peserta. Tim juri yang terdiri dari praktisi seni profesional bekerja keras untuk memberikan penilaian yang adil dan memotivasi. Setiap gerakan tangan yang seolah memegang tali atau berjalan di tengah badai menjadi poin krusial yang menunjukkan sejauh mana siswa mampu menghidupkan ilusi di mata penonton.
Acara yang berlangsung hingga sore hari ini ditutup dengan harapan besar agar seni pantomim terus menjadi identitas kreatif di Jakarta Utara. Melalui momentum FLS3N 2026, diharapkan lahir generasi baru yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peka secara estetika dan berani tampil beda. Semangat 5 Mei di SDN Sukapura 01 ini menjadi bukti nyata bahwa imajinasi anak-anak Cilincing tidak pernah mengenal batas.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar