Selama 23 tahun, lelaki tua ini tetap setia menekuni profesinya sebagai pembuat dan penjual layangan mainan. Konsistensi ini menjadikannya figur ikonik di sepanjang jalur Kanal Banjir Timur (BKT).
Mahakarya Tangan Sendiri: "Layangan BKT"
Berbeda dengan layangan pabrikan yang banyak beredar di pasar, layangan yang dijual di sini memiliki jiwa tersendiri. Mengapa? Karena setiap lembar layangan adalah hasil karya tangan sendiri. Mulai dari menyebut bambu untuk kerangka hingga menempelkan kertas dengan presisi, semuanya dilakukan secara manual dengan ketelitian tinggi.
Saking melekatnya sosok beliau dengan lokasi berjualan, masyarakat sekitar dan para pelanggan setianya kerap menjuluki karyanya dengan sebutan "Layangan BKT".
"Bukan cuma soal terbang, tapi soal keseimbangan. Kalau bikin sendiri, kita tahu mana yang bakal anteng saat diterbangkan" ungkap sembari merapikan dagangannya.
Bertahan dengan Harga Bersahabat
Di tengah himpitan ekonomi dan gempuran permainan digital di ponsel pintar, sang kakek tetap memegang teguh prinsip untuk memudahkan anak-anak bermain. Cukup dengan kocek Rp5.000, siapa pun bisa membawa pulang satu buah layangan berkualitas untuk diterbangkan.
Harga yang murah ini bukan berarti murahan, melainkan bentuk dedikasinya agar tradisi bermain layangan tidak luntur ditelan zaman.
Detail Penjualan:
- Lokasi: Pintu Air BKT Malakasari, Duren Sawit, Jakarta Timur.
- Harga: Rp5.000 per buah.
- Jenis: Layangan hias atau layangan mini mainan hasil kerajinan tangan.
- Jam Operasional: Minggu pagi Car Free Day Malakasari
Menolak Tunduk pada Zaman
Bagi sang kakek, berjualan layangan selama 23 tahun bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan cara menjaga jati diri sebagai putra asli Betawi. Baginya, melihat anak-anak berlarian memainkan layangan mini di kawasan BKT adalah kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan uang.
Jika Anda kebetulan sedang jogging Car Free Day Malakasari, persisnya di area Pintu BKT Malakasari, Duren Sawit. Di sana, Anda akan menemukan sepotong masa kecil yang masih terjaga melalui jemari terampil seorang lelaki tua dan layangan-layangan kertasnya yang siap menantang angin.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar