Kondisi Jalan Cendrawasih saat ini dilaporkan mengalami kerusakan struktur yang berat. Selain lubang yang dalam, warga harus berhadapan dengan genangan air hujan yang tidak kunjung surut dan mengeluarkan aroma busuk yang menyengat, menciptakan risiko kesehatan bagi penghuni komplek.
Spanduk Tuntutan Menghiasi Jalur Utama
Di sepanjang jalan akses, terlihat berbagai tulisan di spanduk yang menuntut perhatian pemerintah dan pihak terkait. Warga menegaskan bahwa mereka tidak bisa lagi menoleransi pembiaran yang membuat area Komplek Bea Cukai Sukapura terus-menurus terdampak banjir.
"Spanduk-spanduk ini adalah suara kami. Kami minta saluran drainase dikuatkan. Kalau cuaca panas saja baunya menyengat, apalagi saat hujan, air masuk ke jalanan dab meluap ke Komplek," ungkap salah satu warga yang tidak mau menyebutkan namanya.
Desakan Penghentian Pengurukan Lahan
Pemicu utama banjir di komplek ini diduga akibat aktivitas pengurukan lahan kosong yang berada di depan dekat perumahan. Warga secara tegas meminta agar aktivitas tersebut dihentikan sementara karena dianggap merusak sistem resapan air alami dan memperparah genangan di jalan akses.
Berikut adalah poin-poin desakan warga yang tertuang dalam aksi protes tersebut:
- Dikuatkannya Saluran Drainase: Warga memohon pembangunan sistem drainase yang baik dan terintegrasi agar air tidak lagi menggenang dan berbau.
- Perbaikan Permanen Jalan Cendrawasih: Mengingat statusnya sebagai akses utama, jalan ini butuh pengerasan dan pengaspalan ulang yang layak.
- Stop Pengurukan Lahan: Moratorium pengurukan lahan kosong dekat Komplek Bea Cukai Sukapura sampai ditemukan solusi teknis agar komplek tidak terkena dampak banjir.
Warga berharap aksi pemasangan spanduk ini segera mendapat respons dari pihak berwenang sebelum kondisi jalan benar-benar terputus dan tidak bisa dilalui sama sekali. Warga mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi jika permohonan mereka untuk mendapatkan lingkungan yang layak segera dipenuhi.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar