Ngilu Mendengarnya! Penjual Donat: Keuntungan Hanya Cukup Buat Makan Itu Pun Jika Laku Dagangannya

Penjual Donat Kadang pengen cerita, tapi bingung apa yang mau diceritakan. Isi kepala terasa sangat kompleks. Berjubel-jubel masalah, jadi kesulitan untuk merunutnya. Ibarat kata benang sudah  terlanjur kusut, untuk mencari diantara ujung benang sangatlah kewalahan. Sudah terlalu letih, raga yang semakin ringkih. Nafas sudah mengi, alias nafas pendek. Ah, adakalanya masalah itu tidak harus diselesaikan. Dibiarkan saja, nanti juga selesai dengan sendirinya. Lenyap dan menguap dari ingatan kepala. 
 
Jadi salah besar jika setiap persoalan harus diselesaikan. Kadang agar masalah itu cepat hilang, harus membuat masalah baru, sehingga masalah lama terlupakan. Itu yan saya lakukan. Ah memang saya itu suka mencari masalah. Kayaknya hidup tanpa masalah kok kurang seru. Kurang ramai. Dunia terasa sepi jadinya. Kegaduhan itu adakalanya bermanfaat juga. Untuk menguji seberapa kuat detak jantung. Dan sekaligus untuk membuat mata ini tetap melek. Eleh...belgedes.
 
Rasa was-was dan kawatir esok hari tuanya gitu gimana. Apakah masih bisa makan ajeg. Apakah raga ini tetap masih sehat dalam mencari nafkah. Atau atau atau...., woih kegelisahan itu sering menyelimuti saat menjelang tidur. Saya pun tak tahu, kenapa bisa muncul dengan tiba-tiba pertanyaa seperti itu. Kalau sudah begitu, wah tidur jadi susah. Tidak nyenyak.
 
Hidup ini sebenarnya terus salam kesusahpayahan. Dari dalam perut sang ibu saja, sebenarnya sudah menunjukan bahwa manusi itu lemah. Makan dan minum mengandalkan bantuan ibu, lewat ari-ari placenta. Lahir kedunia dunia, dengan jeritan tangisan. Paling bisa benar-benar menikmati hidup sekitar usia 20-25 tahun. Setelahnya semakin dalam kesusahan. Menafkahi keluarga, menjaga atau merawat keturunan. Selanjutnya nanti mengawasi cucu. Dan semakin reta, penyakit mulai berdatangan. Kebetuhan hidup terus meningkat, tapi tenaga sudah letoy. Tidak bisa dipaksa, hidup semakin menggantungkan orang lain.
Raja KodokAduh saya itu ngomong apa ya. Kok tidak jelas alur ceritanya gitu. Disisi paragaf merasa bijak, diisi paragraf lainnya, kok tambak sambat. Ketahuan hidup tidak punya pendirian. Mudah sekali goyang. Kena ombak sedikit, sudah mengeluh dan meratap jiwa. Kayaknya kok tidak ihklas dengan takdir. Atau mungkin terlalu sering bermedia sosial, sehingga penyakit iri mudah merasuki? Hust!, kalau ngomong kok asal waton.

Ya seperti apa yang saya singgung diatas. Saya itu mau ngomong apa, sebenarnya bingung. Mau ngomong soal bansos? Ah bikin jengkel saja. Gara-gara bansos saya dapat musuh. Sebenarnya bukan soal itu pembagian jatah. Hanya karena ada orang yang mudah tersinggung dan emosi hanya karena saat membuat penerangan lampu dimalam hari. Aduh ini orang kok mudah emosi, marah-marah bernada keras. Saya kan hanya memberi tahu, "Kalau ingin menyambung listrik disini saja, jadi tak perlu jauh-jauh". Eh hanya ngomong gitu aja, ngajak ribut. Saya mah diam saja, bukan soal takut. Sudah kenyang berantem hehehe. Satu melawan sepuluh saja pernah. Melabrak orang pakai parang saja pernah. Ribut di jalanan juga pernah. Kini saya pengen jadi orang sabar dan berusaha untuk mengendalikan emosi.

Bahas soal masker? Apalagi tambah pening. Kini orang dengan mudahnya mengadili dan menghakimi sesama, hanya gara-gara masker. Saya melihat orang yang sudah tua dan sebenarnya layak dituakan, saling ribut hanya soal masker. Tingkah lakunya jadi kayak orang tidak berpendidikan, mirip anak TK. Seakan-akan masker menjadi juru penyelamat. Sedangkan awal-awal pandemi ini masuk, katanya masker hanya bagi yang sakit.  Orang sehat tidak perlu pakai masker. Sekarang jadi aneh, keluar rumah tidak pakai masker kena sanksi sosial dan kena denda. Weleh! Bahkan dengar kabar, kini masker harus ber-SNI.

Kalau dipikir-pikir benar kata guru saya, "Jangan terlalu cemas dan takut terhadap corona. Bisa jadi yang kau takuti itu tidak menyebabkan kematian bagimu". Takut sama corona, eh matinya karena kelaparan. Takut corona, matinya kecelakaan. Takut corona eh matinya karena jantungan. Saya pernah mengalami sindrom ketakutan yang luar biasa terhadap corona. Ya karena sering terlalu membaca berita, atau pembaca sms yang masuk dari petugas gugus covid. Eleh ini kenapa pakai kirim pesan SMS segala. Kurang penggawaian kah petugas gugus depan covid ini. Atau sengaja ingin menciptakan ketakutan. Entahlah. Giliran masyarakat sudah merasakan ketakutan, pengen mengganti istilah-istilah penyakit tentang korona. Sudah terlambat!

Bicara soal pendemi ini? Ya paragraf diatas sudah sedikit mengulasnya. Dampak dari pendemi ini lumayan dan lumayan. Ah tidak perlu saya jabarkan. Ekonomi jadi seret, kebutuhan ini dan itu harus dibayarkan. Saya pernah makan apa adanya yang penting perut terisi. Jadi pengen ambil tisu. Tapi saya harus tetap menunjukan ekspresi gembira. Kadang pengen cemberut, dan menangis tapi malu sama sang Pencipta. Seakan-akan saya tidak ridho dengan nasib yang saya terima. Saya harus bisa mengambil sisi nikmat, agar bisa bersyukur. Weleh sok alim!

Eh belum lama ini saya bertemu dengan kekek penjual Donat? Apa? Paragraf yang hampir selesai baru membahas tema judul artikel? Kemana aja bos? Kan sudah saya bilang, saya itu mau ngomong apa sebenarnya bingung. Mau dilanjutkan kagak? Lanjutkanlah!

Saat lagi asek membuat video bersama boneka Raja Kodok, ada seorang kakek penjual donat yang datang. Wah kesempatan nih bisa berkolaburasi, batin saya. Ya akhirnya saya membeli donatnya. Sambil ngobrol-ngobrol ringan. Kakek ini berjualan dengan sistem setoran. Saya pun menyinggung soal keuntungaannya. Ternyata, keuntungannya hanya cukup buat makan, dan itu pun kalau laku donatnya. Saya pun sempat terhenyak sesaat. Ada rasa sedih dan prihatin. Ngilu mendengarkannya.

Harga donatnya sangat murah sekali, seribu rupiah. Saya pun membeli alias mentraktir bocah-bocah. Ternyata hanya habis 22ribu rupiah. Tapi saya senang, kakek penjual donat ini tampak gembira. Walau laku tidak seberapa. Mungkin ada harapan pulang sudah membawa uang. Aduh, kalau Om Koodok punya uang banyak, pastinya saya borong donat tersebut. Alaaah, pintar alasan. Iya, itupun saya punya duit juga hasil dari blog ini. Ada yang pasang artikel placement, terus sebagian duitnya saya buat traktir bocah-bocah. Berbagi kegembiraan gitu. Wah siplah! Eh, ngomong-ngomong sudah subscribe belum? Subscribelah!

Related Posts

12 komentar:

  1. Semua rugi pak. Banyak ukAm gulung tikar

    BalasHapus
  2. Semoga murah rezeki Encik Djangkaru Bumi kerana menggembirakan dengan membeli daripada Kakak menjual donut.
    Jangan mengeluh ya. Saya doakan encik dimurahkan rezeki.

    BalasHapus
  3. Sekarang emang lagi sulit Mas, banyak usaha yang harus tutup.
    Kita cuma bisa berusaha, tetap tegar dan tetap semangat aja agar bisa terus menapak masa depan yang ingin kita raih.

    BalasHapus
  4. Jadi banyak kacaunya situasi pandemi ini ya, mas ..
    Yang ditakutkan kalau sampai betul terjadi resesi ekonomi di Indonesia, kejahatan karena kelaparan mungkin saja dapat meningkat tajam grafiknya.
    Bagimana tidak, banyak masyarakat yang sudah hidup dibawah garis kemiskinan selama ini bertambah sulit hidupnya setelah adanya pandemi.

    BalasHapus
  5. perjuangan keras ya bpk penjual donat ini. mungkin bpk ini harus dapat btl nih. blt umkm.

    BalasHapus
  6. sedihnyaaaaa... semoga si penjual sentiasa dimurahkan rezeki

    BalasHapus
  7. sekarang itu memang hampir semua merasakan dampaknya

    tapi ya semua harus tetap bertahan
    semoga semuanya tetap dimudahkan dan diberi kelancaran amin

    BalasHapus
  8. Jadi inti cerita penjual donatnya cuma di 2 paragraf terakhir ya om hahahha.

    Kasian ya penjual donatnya, mudah2annya rejekinya dilancarkan, amin

    BalasHapus
  9. Semangat pak buat jualannya, semoga lancar terus rezekinya..

    BalasHapus
  10. Mas Djangkaru, tetep semangat yaaaa. Terharu bacanya.. ttp mau menolong si bapak penjual donut :(. Sedih aku baca si bapak donat, semoga dimudahkan rezekinya, yg beli donut banyak, juga rezeki untuk mas Djangkaru :). Aku udh subscribe dong videonya ;). Ntr aku tontonin juga yaaaa.

    BalasHapus
  11. Aku kok nangis.. Kadang nggk sadar kalau diluar sana masih banyak orang yg kesusahan, sedangkan saya terus mencibir bahkan mengeluh..
    Doaku yg terbaik untuk Om Kodok dan kakek penjual donat serta kita2 orng yg sedang berusaha..
    Semoga diberi kemudahan dalam hidup..
    Semoga pandemi ini cepat berlalu...
    Amin Ya Rabb...

    BalasHapus
  12. Pandemi ini membuat banyak usaha kelimpungan. Tetangga-tetanggaku yang jualan makanan, semua sambat sepi. Sedih tapi harus kuat melanjutkan hidup.
    Semoga dimudahkan rejekinya mas dan semoga pandemi ini segera berakhir.

    BalasHapus

 
Back To Top