Gedung Tua Menyimpan Sejuta Kenangan

Gedung Tua

Aku itu memang paling suka jalan-jalan. Ya sekedar melepaskan penat pikiran maupun perasaan. Kalau di rumah terus, ada rasa kesuntukan. Jenuh melanda. Bosan menginggap. Kegalauan dan keresahan lebih mengemuka. Hati mudah sensi, emosi yang tidak terkendali. Uring-uringan yang tidak jelas penyebabnya dan arah amarah yang membuta. Untuk menghindari hal itu, keluar rumah solusinya.

Udara panas, matahari sepertinya tidak memberi ampun untuk teduh sejenak. Cahayanya begitu menyilaukan mata. Debu-debu beterbangan. Angin pun enggan bergerak, gerah rasanya. Tapi aku terus menikmatinya. Menelusuri jalan-jalan yang semakin ganasnya. Mobil besar bersliweran, sempat membuat hatiku ciut. Lalu lintas semakin padatnya.

Dari kejauhan, seakan-akan ada daya magnet yang begitu kuatnya. Menarikku untuk semakin mendekat. Aku tidak punya daya, kecuali hanya menurutinya. Gedung tua yang tidak berubah bentuknya. Warna biru yang lebih dominan. Kusamnya dinding, tetap seperti sedia kala. Gedung yang dulu tempat aku bekerja.

Gedung Tua

Gedung itu tetap kosong. Ya, dulu aku pernah bekerja di sini. Gedung ini berada disebuah kawasan industri pemerintah. Dan sudah puluhan tahun aku bekerja disitu. Banyak kenangan yang tidak terlupakan. Duka dan suka bercampur aduk di sana. Kisah asmara dan cinta terbenam dalam ingatan. Ah, aku dibuatnya tertawa. Betapa konyolnya aku saat itu.

Aku bisa dan diterima kerja di situ berkat kebaikan hati seseorang. Tapi aku sendiri tidak tahu, jika dia memendam rasa kepadaku. Karena aku sendiri sudah mencintai seseorang. Sehingga perempuan lain, hanya aku anggap sebatas teman karib belaka. Walau akhirnya, aku pun liar dan tunduk pada cinta lokasi, cinlok gitulah. Cinta, benci dan dendam silih berganti. Ruyam dan bulet, itulah yang aku rasakan. Maklum miskin pengalaman soal cinta. Sehingga mudah terbuai bujuk manisnya.

Kerjaku disitu sangat ringan sekali. Tidak begitu berat. Direktur atau yang punya perusahaan, orangnya juga ramah dan baik sekali terhadapku. Selama kerja di situ, belum pernah aku kena bentak atau omelan. Kalau ada karyawan kesurupan, aku yang bagian mengobatinya. Walau pernah satu kali gagal. Atau kalah melawan jin. Sesekali kalah kan, hal biasa? Di artikel ini, pada intinya aku ingin mengucapkan terimakasih kepada pemilik perusahaan itu. Jika ada salah kata dan perbuatan mohon dimaafkan. Karena pada saat perusahaan dinyatakan tutup dan pindah ke Semarang, belum sempat berjabat tangan.

Related Posts

12 komentar :

  1. Ternyata disitu pernah ada karyawan yg kesurupan to, ternyata nggak cuma pelajar yg sedang kemah yg diberitakan sering kesurupan.

    BalasHapus
  2. yang tua pasti banyak kenangannya juga
    mari dijaga biar terus ada

    BalasHapus
  3. Setiap tempat yg pernah disinggahi pasti memilki kesan, apalagi itu pernah jadi tempat mencari rejeki, pasti ada rasa kerinduan menyeruak

    BalasHapus
  4. wanita yg suka dng mas bumi pemilik perusahaan yach ?

    Ohy.klu boleh tahu Mas ini Paranormal atau Peruqyah ?

    BalasHapus
  5. Sayang sekali ya mas DB bangunan sebesar itu dibiarkan kosong, apalagi kalau ingat dulunya punya kenangan suka duka disana.

    BalasHapus
  6. Kenangan indah maupun pahit, sama-sama tak mudah untuk dilupakan.

    BalasHapus
  7. kenangannya sampai sejuta.. banyak banget ya mas kenangannya ditempat itu :)

    BalasHapus
  8. moment to remember ya mas ~~ pasti jin-jin disitu juga rindu sama mas wkwkwk

    BalasHapus
  9. Wah sekarang gedung tua itu kosong ?.
    Pasti makin banyak 'penghuni' lain ningki disana ...

    Ciee ciee .. yang punya sejarah cinta-cintaan di gedung tua 😉

    BalasHapus
  10. Kita sama Mas Bumi; kalau sudah terlalu lama di rumah mata sepet kebanyakan pelototin laptop, jadi solusinya ya keluar rumah. Jalan ke mana aja sesuka hati. Meski kadang itu siang bolong hahaha panas ya sudahlah panas aja, yang penting enggak di rumah aja. Gedung tua, nostalgia ... sayang ya gedungnya terabaikan.

    BalasHapus
  11. Saya orang jakarta aja belum pernah sama sekali ke gedung tua

    BalasHapus
  12. Sedih ya kalaykalau lihat gedung tua tempat mas Djangkaru kerja dulu. Terus waktu perusahaan tutuo dan dinyatakan pindah ke Semarang kenapa mas Djangkaru nggak ikut pindah ke Semarang kan enak hidup di daerah mas Djangkaru daripada di ibukota hehehe.. Maad lho ya cuma sekedar kaaih input..

    BalasHapus

 
Back To Top