Lelaki dalam Kebimbangan dan Kekeruhan Pikiran

Lelaki dalam Kebimbangan dan Kekeruhan Pikiran

Musim panas yang berkepanjangan, dengan terik matahari yang begitu menyengat. Membuat magma isi kepalaku terasa mendidih. Bergelembung dan menggumpal, sesekali meletup-letup dan meledak. Terus dan silih berganti, sehingga membuat tensi darahku naik. Pening kepala, pusing yang mengacaukan segala rencana. Dan aku pun tidak bisa berpikir jernih. Yang ada hanya kemarahan yang tertahankan.

Hidup ini untuk terlepas dari rasa kecemasan dan kekwatiran begitu sulitnya. Ketakutan akan masa depan yang belum pasti begitu hebatnya. Walau sebenarnya semua itu hanyalah sekedar bayangan semu belaka. Tapi, jika sudah terlanjur merasuk dalam pikiran, terjerat dalam tali-tali saraf otak. Sulit sekali untuk membebaskan.

Apakah manusia itu seperti itu? Terbelenggu dengan mimpi dan cita-cita yang belum pasti wujudnya. Sehingga melupakan kenikmatan yang diperolehnya saat ini. Apakah manusia itu sering lupa, bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah hari ini. Yang lalu telah menjadi sejarah, dan esok belum pasti menjadi miliknya. Aku tergolong manusia seperti itu.

Mengurai rimba dalam pikiranku begitu sulitnya. Aku berusaha untuk menyibaknya, tapi tetap kegelapan yang aku temukan. Aku rindu cahaya. Sinar yang mampu menunjukan jalan keluar dari kubangan keresahan hati dan pikiran. Aku merasa lelah dan kewalahan.

Jika ketakutan dan kegelisahan itu datang. Keringat dingin bercucuran. Sulit tidur, pikiran melalang buana. Kelopak mata, sulit untuk dipejamkan. Berperang dan berkecambuk dengan hal ketidakpastian. Degup jantung begitu kencangnya. Obrolan hati yang tidak berkesudahan. Meratap dan menyesali suatu hal yang seharusnya tidak perlu. Ah, aku tidak bisa menemukan makna dan hakiki dari kehidupan ini.

Related Posts

18 komentar :

  1. mungkin ketika memikirkan semua kesulitan ini, kita akan terfikir, alangkah bagusnya kalau aku bukan seorang manusia...

    BalasHapus
  2. kadang terlalu banyak berpikir bisa membelenggu aksi>
    kadang kita butuh aksi spontanitas untuk melepas belenggu pikiran tersebut

    BalasHapus
  3. Manusia sudah lazim saling mengira. Menganggap kehidupan orang lain lebih baik, lebih enak. Padahal mungkin orang juga menganggap enak benar jadi kita, hehehe...

    Yang penting kita sukuri dan terus berkarya yang bermanfaat ya...

    BalasHapus
  4. Kadang rasa cemas itu penting, sehingga bisa menambah motivasi bagi kita utk lebih maju lagi.

    BalasHapus
  5. Kalau pening kepala, yuuuuk kita piknik hehehe. Btw kalimat terakhirnya serem: Ah, aku tidak bisa menemukan makna dan hakiki dari kehidupan ini :(

    BalasHapus
  6. Terjebak dalam mimpi dan cita-cita itu emang bikin pusing, rasanya dihantui bayangan masa depan dan dikejar waktu. Usia makin tua, trus mimpi yang udah jadi nyata mana? 😢
    Sedih deh, saya sering lho mikir begitu....
    Padahal kita harus bersyukur akan hari ini dan nggak perlu puyeng mikir masa depan yang belom kelihatan. Yang penting semangat dan berusaha, jangan lupa doanya juga...

    BalasHapus
  7. Jangan terlalu bamyak pikiran nanti bikin stres. Mungkin agar nggak stress perlu liburan, rekreasi atau travelling menikmati keindahan alam.pasti pikiran jadi fresh kembali. Kalau ingin cahaya itu datang bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Curhat hanya kepada Nya. Hati dan pikiran akan terasa tenang dan damai Tetap semangat.

    BalasHapus
  8. oh masa depan entah seperti apa wujudmu, aku hanya berusaha untuk bisa mewujudkan masa depan bersama chelsea islan kelak.. :D

    BalasHapus
  9. Padahal sejatinya manusia, alam sbenarnya adalah dunia setelah kiamat ya kang... kadang kita mengejar duniawi, tanpa tau tujuannya apa. Duh jadi sedih baca artikel ini

    BalasHapus
  10. Baca Blog ini itu seneng terhibur sama rangkaian kata-katanya. " Magma dikepala ".. hahaha.. kosakatanya banyak amat mas.. pingin bisa. 😁😁😁😁

    BalasHapus
  11. Aku bukan lelaki
    Pikirannya tak bisa kupahami
    Namun membaca tulisan ini
    Ternyata ada gelisah sama arti

    :)

    BalasHapus
  12. Iya, kebayakan kita memang seperti itu. banyakan khawatir akan masa depan dan apakadabranya sehingga banyak pikiran dan melupakan anugerah bernama hari ini, lupa bersyukur

    BalasHapus

 
Back To Top