Wayang Kulit dan Keris Telah Menyatu dalam Diriku

Wayang Kulit dan Keris Telah Menyatu dalam Diriku

Di kontrakan yang berukuran sempit dan pengap, aku ingin bercerita. Atau hanya sekedar kayalan dan halusinasi, entahlah. Atau mungkin hanya sekedar dongeng? Aku sendiri tidak bisa memastikannya. Ya, anggap saja hanya sekedar kibulan atau hiburan saja. Yang penting jangan terlalu dibawa serius. Atau diseret keranah perdebatan. Karena aku kawatirkan, nantinya tidak akan ada jalan titik temunya. 

Aku paling suka dengan wayang kulit. Sejak taman-taman kanak-kanak, aku sudah mulai tertarik dan sering melihat pertunjukan wayang kulit. Dan paling antusias jika mendengarkan kisah pertempuran Mahabarata. Atraksi Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong selalu membuatku tertawa, merasa terhibur. Lucu abis pokoknya.

Dan sampai saat ini, aku masih demen melihat pertunjukan wayang kulit. Jika ada pagelaran wayang kulit dekat rumah, aku berusaha untuk menontonnya. Sebagai obat kangen akan budaya jawa, khususnya wayang kulit. Di dinding kontrakan, aku pajang wayang kulit tokoh punakawan dan Arjuna. Walau sebenarnya aku juga punya wayang kulit ukuran lebih kecil, tapi aku simpan di rak almari.

Kalau soal keris? Orang jawa jika belum punya keris kok rasanya belum menjadi jawa tulen. Ini pusaka peninggalan almarhum kakek. Dan aku bawa merantau. Tiap bulan Muharam senantiasa aku jimas (dibersihkan dan dimandikan). Hal ini saya pernah bercerita di blog Om Koodok. Dan semua ini hanya sekedar menjadi kesenangan saja. Bukan menjurus ke hal-hal aneh.

Dan tiap bulan, keris tersebut aku beri kembang melati. Biar tampak sakral saja, eh bukan maksud aku biar wangi dan kerangka keris tidak dimakan rayap. Itulah cerita kusamku, sekusam dinding kontrakanku. Hidup ini memang perlu hiburan, makanya harus pandai menghibur diri. Wayang kulit dan kerislah yang menjadi obat dari kejenuhan rutinitasku.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Back To Top