Apakah Aku Termasuk Pemuja Cinta? Karena Tidak Pernah Bosan dengan Patah Hati

Pemuja Cinta

Balasan  surat cinta yang dulu aku kirim kesetiap wanita, mungkin tidak lagi terhitung jumlahnya. Ratusan surat penolakan. Tapi entah mengapa, aku tidak pernah bosan untuk mencari sang bidadari yang akan aku singgahkan ke istana hati. Gadis pujaan yang akan saya beri ruang istimewa didalam sukma. Yang akan aku gadang-gadang dan ku jaga.

Jika ada luang waktu, aku pun masih membuka surat penolakan cinta itu. Tidak ada rasa marah dan tidak ada rasa kecewa. Yang penting aku sudah mencoba mengatakan dengan sejujur hati. Cinta yang dipendam akan membawa derita. Lebih baik diungkapkan saja. Soal diterima-tidaknya, itu urusan belakang saja.

Patah hati, akan terobati dengan tumbuhnya cinta baru. Makanya aku tidak mau berlama-lama dengan rasa itu. Dua minggu telah berlalu, aku memperhatikan ada seorang gadis yang sering lewat dikampungku. Berangkat dan pulang sekolah dengan mengayuh sepeda. Wajah manis, senyum sumringah betapa ramahnya.

Ah, aku pun mulai jatuh cinta. Aku pun mulai menelisik siapa nama dan dimana alamat gadis itu. Kurniawati itulah namanya. Biasa dipanggil Nia. Wow, nama yang singat dan mudah diingat. Dan aku pun mulai sering bermain kerumahnya.

Kadang aku merasa salah tingkah saat berpaspasan dijalan dengannya. Ada rasa rindu jika sehari tidak bertemu atau tidak melihat dia lewat dikampungku. Aku harus mengatakan cinta. Aku harus segera menulis dan memberikannya. Karena aku ingin tahu jawabannya.

Di hari Minggu yang cerah dengan seorang diri. Aku datang kerumahnya. Memberikan surat yang bersampul warna biru. Dengan penegasan kata di akhir kalimat, "Harus dijawab saat ini juga". Memang aku itu sifatnya suka memaksa. Atau mungkin terlalu percaya diri? Beda tipislah.

Yang membuat aku salut. Dia langsung berani bersuara. "Untuk saat ini, aku focus ke pendidikan dulu. Ingin belajar lebih  giat. Untuk urusan jodoh diantara kita biarkan Tuhan yang menentukannya". Jawaban yang sungguh luar biasa. Penolakan cinta yang begitu tegas. Kecewa dan patah hati lagi? Pasti itu. Dan aku pun tetap berteman seperti biasanya. Seakan-akan  tidak pernah ada peristiwa penolakan cinta.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Back To Top