Aku Tembak Anak Pak Lurah Tapi Justru Aku yang Terluka

Aku Tembak Anak Pak Lurah Tapi Justru Aku yang Terluka

Wajah ganteng itu belum tentu membawa keberuntungan. Kadang bisa jadi membawa musibah dan petaka hati. Perumpaan itu mirip dengan apa yang aku alami. Entah tahun berapa itu peristiwa yang membuat hati ini pilu. Ngili sengilunya, perih seperihnya luka. Dan ternyata peristiwa itu masih mewarna didalam isi kepala. Sebuah kenangan yang akan selalu membuat basah luka yang awalnya sudah mengering.

Waktu mulai senja, dan gerimis dengan malu-malu mulai jatuh. Aku kayuh sepeda tua dengan bangga dan percaya diri. Aku tidak memperdulikan jika waktu mulai malam. Hati ini sudah tidak sabar menahan rindu, sebuah cinta yang terpendam. Dan ingin segera aku ucapkan. Cinta yang begitu besar, bagaikan gunung merapi yang tumbuh didalam dada. Sesak dan guncangannya bikin jiwa ini tidak mampu menahannya.

Menjelang maghrib tibalah aku sampai dirumah pujaan hati. Dan aku pun disambut dengan ramah. Aku dipersilakan untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Gemetar tubuh ini, kakulah lidahku untuk mengucapkan sebuah kata-kata. Aduh gadis ini begitu cantiknya, rambutnya lurus sepanjang menambah keanggunanya. Sebut saja gadis ini dengan nama "Niken". Niken adalah anak Pak Lurah. Keluarga tersohor dan terhormat.

Sebelum aku berangkat ke rumah Niken. Sudah aku siapkan sepucuk surat, ungkapan hati bahwa aku mencintainya. Dan didalam surat tersebut aku menanti dan ingin langsung meminta keputusan atau jawabannya. Hari itu juga. Dan aku sudah percaya diri, pasti dia menerima cintaku.

Setelah dia membaca isi suratku. Dia terdiam lama. Tidak memberikan respon. Akhirnya aku memaksanya untuk bicara. Antara jawban "Ya" dan "Tidak", harus terlontarkan dibibir mungilnya. Perlahan dia mulai mau bicara, "Maaf saya tidak bisa menerima cintamu, kita untuk sementara berteman baik saja".

Diluar rumah langsung terdengar petir menyambar dan hujan deras pun turun dengan lebatnya. Ternyata alam telah mewakili sisi hatiku. Kecewa dan malu, cintaku bertepuk sebelah tangan. Dan aku pun minta ijin pulang, tidak memperdulikan gelap gulitanya malam. Aku nekat menerjang guyuran hujan. Air mataku, bersatu dengan tetasan air langit. Basah kuyub tubuhku, tidak sedingin luka hatiku. 

Makanya Dul, harus tahu diri. Anak Pak Lurah main loe tembah aja. Nih Kaca! Maksudnya nih tisu. Pastilah kau terluka tapi tidak perlu merana dan kecewa, Dul. Dunia tidak selebar daun kelor. Diluar sana, masih banyak  Niken-Niken yang berkeliaran. Emang kambing? Semprul!

Related Posts

1 komentar:

  1. Duh duh kasian anak mami. Puk puk ini tisuuu


    Hehe sabarrr

    BalasHapus

 
Back To Top