Waspadalah Saat Membeli Mie Instan

Waspadalah Saat membeli Mie Instan

Saya itu kerjanya sebagai seorang kuli di depan komputer. Penghasilan tidaklah menentu. Tergantung dari job-job yang datang. Jika pas lagi beruntung, lumayanlah rezekinya. Tapi kalau pas sepi, harus pandai-pandai mengatur keuangan. Nah, kalau saat tanggal tua, saya sangat-sangat berhemat. Makan lebih seringnya hanya dengan mie instan saja. Harga murah, hanya berkisar Rp 2000,- an perbungkus tapi bisa mengenyangkan perut. 

Kalau soal belanja mie instan, juga tergantung keadaan isi dompet. Jika pas dompet tebal, belanjanya di minimarket. Numpang gaya dan ngadem sebenarnya, biar kelihatan atau dikira orang kerja di kantoran. Sekalian cuci mata, lihat cewek kasir yang aduh hay. Canti-cantik. Nah, kalau pas dompet tipis, belanjanya di warung tetangga. Lebih tepatnya, sebenarnya ngutang seh. Alias ngebon. Kan tahu sendiri, di minimarket tidak bisa hutang, harus bayar kontan.

Waspadalah Saat membeli Mie Instan

Ada cerita atau pengalaman yang menarik soal mi instan. Walau sama-sama mi instan, antara di minimarket dan di warung ternyata ada perbedaannya. Sehingga membuat saya bingung, untuk membedakan antara mi asli dan mi palsu. Kenapa di minimarket bumbu minyaknya terletak disebelah kanan dan sedangkan mi instan yang belinya di warung, bumbu minyaknya disebelah kiri? Kenapa satu merk atau satu produk, letak bumbunya bisa berbeda? Mana yang asli dan mana yang palsu? Ataukah kedua-duanya asli? Atau bahkan palsu semuanya? Entahlah!

Waspadalah Saat membeli Mie Instan

Sampai saat ini belum ada penjelasan dari pihak produsen untuk memberikan klarifikasi. Hal semacam ini penting, demi kenyamanan dan keamanan pelanggan. Hak konsumen harus dilindungi. Pastinya, konsumen sangatlah kesulitan untuk membedakan mana mie instan yang asli dan palsu. Karena secara kasat mata, kemasan atau bungkusnya benar-benar sama. Konsumen hanya  bisa membedakan saat membuka kemasan dan melihat letak/posisi bumbu mie instan tersebut.

Ya begitulah, jadi konsumen itu harus benar-benar teliti, jeli dan kritis. Jika menemukan hal yang berbeda atau kejanggalan harus berani bersuara. Jangan hanya diam. Lantanglah. Agar suara Anda terdengar dan didengar. Waspada dan kehati-hatian saat membeli sangatlah diperlukan. Biar terhindar dari produk-produk palsu, yang kian merajalela.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Back To Top